Ini Prokem!

3 Mei, 2010 | Edisi: | Kategori: Tulisan Musiman

Oleh André Hasibuan*

Percakapan ala Prokem

Percakapan ala Prokem

Bahasa prokem/gaul yang dipergunakan oleh kaum muda, “anak gaul”, Jakarta dan sekitarnya merupakan pengembangan bahasa Betawi yang lazim digunakan masyarakat Betawi bumiputera. Bahasa betawi, sebagai bagian dari substansi budaya Betawi, muncul karena adanya pencampuran kebiasaan dan peradaban masyarakat di suatu daerah yang dulu dikenal sebagai pelabuhan Sunda Kelapa. Awalnya, gejala bahasa Betawi dipandang hanya sebagai suatu dialek dari bahasa Sunda, yang mendominasi daerah tataran Sunda dari Banten sampai dengan perbatasan Kesultanan Cirebon pada masa penjajahan Belanda. Namun, pandangan tersebut semakin lama semakin bergeser karena semakin banyaknya kosakata yang dipakai untuk bergaul di kalangan masyarakat yang tinggal dan berkepentingan di Sunda Kelapa, sebagai pusat pelabuhan terbesar di Pulau Jawa.

Mengaduk masa lalu untuk mengetahui masa kini, artikel ini ingin menggambarkan beberapa proses dalam bahasa Betawi hingga melahirkan “bahasa gaul” untuk anak muda masa kini.

PENYISIPAN /OK/ SETELAH BUNYI PERTAMA

Gejala penyisipan /ok/yang ditempatkan setelah bunyi pertama dari sebuah kata sebenarnya merupakan sebuah sandi rahasia di kalangan centeng Belanda. Semua kosakata dalam bahasa Betawi di Sunda Kelapa diganti dengan kosakata baru. Kalangan ini tidak menggunakan bahasa Belanda, bahasa plecok (bahasa Belanda dengan tatabahasa bahasa Melayu/Indonesia), ataupun bahasa Betawi. Namun, untuk angka, terutama mata uang, mereka masih mempertahankan kebiasaan lama yang dipengaruhi oleh bahasa Cina, seperti gotun/go-toen (lima perak alias lima rupiah) atau cepé (seratus perak alias seratus rupiah). Perkembangan dari gejala penyisipan /ok/ ini sangat populer dan masih dipakai hingga saat ini.

Setelah mendapat sisipan /ok/, beberapa bunyi dihilangkan sesuai dengan kebiasaan masyarakat Betawi yang hanya mengenal kata yang hanya dapat dipenggal menjadi 2 suku kata, misalnya:

  1. GILA à G-I-L-A, terdiri atas 4 bunyi, dan GI – LA jika dipenggal menjadi 2 suku kata. Setelah disisipi /ok/, GILA berubah menjadi G-(OK)-I-L-A à G-O-K-I-L-A.  Kata tersebut memiliki 3 suku kata sehingga disingkat menjadi GO – KIL dan membentuk kata gokil. Lalu, mengapa /a/ dihilangkan dan /l/ dibiarkan, atau dengan kata lain mengapa harus GOKIL, toh dengan kata GOKI (G-O-K-I) sebenarnya bisa dipenggal menjadi GO – KI yang terdiri atas 2 suku kata? Hal tersebut dilakukan sebagai pengingat bahwa infinitif (kata dasar) dari GOKIL adalah GILA. Jika hanya ditulis GOKI, kata itu akan menyebabkan kerancuan antara GILA dan GITU. Akibatnya, kosakata GITU (begitu) jika dirumuskan menjadi G (OK) I T U, /u/ akan dihilangkan sehingga dapat membentuk kata G O K I T.
  2. SEPATU à terdiri atas 6 bunyi, dan jika disisipi /ok/, kata tersebut seharusnya menjadi SO(KE)PATU, atau jika mengikuti pemenggalan suku kata dapat menjadi SOKEP, akan tetapi yang lazim adalah SPOKAT. Mengapa menjadi SPOKAT? S E P A T U dalam bahasa Betawi adalah SPATU dengan /sp/ yang dianggap sebagai suatu kesatuan (pembulatan). Dengan demikian, rumusannya menjadi SEPATU (S-E-P-A-T-U (bahasa Indonesia)) à SP-A-T-U (bahasa Betawi) à SP-(OK)-A-T-U à SPOKAT.

Hal yang sama juga terjadi dengan kata perempuan dan sebagainya. Misalnya,

VRIJMAN (bahasa Belanda – dibaca /fréyman/) à diucapkan secara lidah Melayu menjadi PREMAN à PR-(OK)-E-M-A-N, à /a/ dan /n/ dihilangkan sehingga membentuk PROKEM.

Khusus untuk kata PEREMPUAN, BF (Blue Film), BABE, dan NYAK (ibunda) terdapat pengecualian:

–       PEREMPUAN à dilafalkan PREMPUAN à seharusnya menjadi à PROKEM (dibaca /PRO-KèM/), namun bahasa Betawi tidak mengenal /é/ dan /è/ sehingga /e/ diganti dengan /u/ dan menghasilkan PROKUM.

–       BF (Blue Film) dibaca dengan lidah Betawi sebagai BÉ – ÉP, maka ketika ditambah dengan sisipan /ok/ berubah menjadi BOKEEP (dipenggal BO-KE-EP) à yang dihilangkan bukan /e/ dan /p/, tetapi hanya /e/. Hal ini karena jika yang dihilangkan adalah /e/ dan /p/, maka menjadi BOKE. BOKE sendiri memiliki arti lain, yaitu ‘tidak memiliki uang’ atau bersinonim dengan AMSIONG. Dengan demikian,  BOKEEP à BOKEP.

–       BABE dan NYAK, turunan dari BABE setelah mendapat sisipan /ok/ seharusnya dirumuskan: BABE à BOKABA à B-OK-AB (/a/ dihilangkan untuk membentuk kata bersuku kata dua, BOKAB à diucapkan /bokap/.

NYAK jika dirumuskan seharusnya: NY-OK-AK à NYOKAP. /k/ diganti dengan /p/ sebagai padanan dengan BOKAP.

INVERSI

Gejala inversi mungkin terpengaruh oleh bahasa Belanda. Dalam bahasa Belanda, inversi digunakan untuk membentuk anak kalimat. Misalnya, ada kalimat dalam bahasa Indonesia Saya bermain gitar karena saya suka musik. Jika mengikuti tata bahasa Belanda, kalimat tersebut akan berbunyi Saya bermain gitar karena suka saya musik. Bagian yang diinversi adalah subjek dan predikat dari anak kalimat, sedangkan induk kalimat tidak mengalami inversi. Namun, dalam perkembangan bahasa Betawi, inversi antarkata tidak dikenal. Bahasa Betawi memiliki keunikan yang mengenal:

a.       inversi bunyi (pelafalan bunyi terbalik)

M A B O K à berasal dari kata mabuk, à K O B A M

b.      inversi suku kata

TING – GI à GI – TING

c.       inversi campuran (pertukaran antarbunyi)

B A L I K à  L A B I K

PENYINGKATAN

Jika digabungkan, beberapa kata dalam bahasa Betawi memiliki arti tersendiri. Untuk mempersingkat istilah tersebut “anak-anak gaul pada zamannya” terbiasa untuk menggabungkan pemenggalan suku kata awal, ataupun bunyi. Penyingkatan terjadi agar kata yang terujar tidak terlalu mencolok/vulgar. Contoh:

d.      SARKON (1) à Sarung K***o* à yang berarti kondom.

e.       SARKON (2) à Sarimin Konak à istilah ini menggambarkan adanya hubungan biologis antara saudara sedarah atau ungkapan yang ditujukan kepada pemerkosa anak atau saudara sendiri. Nama Sarimin sering diberikan kepada kera di kesenian topeng monyet. Sarimin digambarkan sebagai perilaku hewan brutal, mudah terangsang jika melihat kera betina, tanpa tahu kera betina itu adalah adiknya atau ibunya.

f.       DARA à  Dada Rata à ditujukan kepada wanita yang memilki payudara kecil.

g.      KANSAS (1) à Kami/Kalian Anak Nakal Sesaat Akan Sadar à diucapkan jika sekelompok anak SD/SMP dipergoki merokok. Maksudnya untuk memahfumkan perilaku anak-anak.

h.      KANSAS (2) à Kantin Sastra

i.        KANKER à Kantong Kering à menggambarkan keadaan tidak memiliki uang tunai.

j.        KONDOM à K***o* Dominatrix à keadaan pria yang dikekang oleh pasangannya. Dominatrix adalah wanita yang berperan sebagai majikan, sedangkan pria sebagai budak dalam perilaku seks BDSM.

PENYERAPAN MENTAH & ALAY

Perkembangan teknologi mutakhir membuat banyak kosakata bahasa Inggris masuk ke dalam bahasa Betawi. Dalam beberapa hal, kosakata diserap secara penuh, dan sebagian di-“gaul”-kan dengan cara mengubah penulisan baku menjadi “lebih imut”.

k.            Penyerapan mentah dilakukan karena belum adanya ketepatan kata untuk memadankan istilah, contoh CAW (CIAO), MO-BO (motherboard), HA-DE (hard disk), HA-PE (handphone), SANRUP (sun roof), dan masih banyak contoh yang lain.

l.              Alay adalah nama sebutan untuk “anak gaul”. Sering kali, alay menggunakan kata-kata yang sedang populer. Berikut adalah contoh ucapan seorang alay ketika mengajak saya makan siang, “Aduh bo, jangan lambretta gincu dong! Akika lapangan basket, bo!” Dalam kalimat tersebut setidaknya ada 6 kata yang dipelesetkan:

–   ‘Bo, adalah sebutan gaul. Kata ini berasal dari Ca Bau Kan, yang diucapkan /ca-bo-kan/, kemudian dipersingkat menjadi cabo. Bo’ menjadi populer sebagai panggilan untuk mengakrabkan WTS dan banci.

–   Lambretta à lambat

–   Gincu à gitu/begitu

–   Akika à Aku

–   Lapangan à Lapar

–   Basket à Banget

Selain bentuk “bencong gaul”, alay juga memiliki kebiasaan menulis dengan cara “pengimutan”. Berikut adalah contoh ucapan seorang “alay imut”, “Chayank, met makan cianx. Mu’uph aqhuu g bisa ke ur’ humz. Kamyu g marah ‘khan??? Luv u beib.”

***

Demikian artikel ini dibuat sebagai pengamatan terhadap perkembangan bahasa di Indonesia. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menghina ataupun menghujat kalangan tertentu, melainkan sebagai apresiasi terhadap keberagaman bahasa Indonesia. Salam Jilat.

*Pecinta Bahasa Indonesia (tinggal di Kalimantan Selatan)

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar