“Ang Tagalog ay Hindi Mawawala, Brother!”

3 Mei, 2010 | Edisi: | Kategori: Liputan Khusus

Oleh Aditya Surya Putra

Akhir Maret hingga awal April 2010 kemarin, Mat Kodak berkesempatan berkunjung ke negara tetangga, Filipina, untuk meliput kegiatan Pekan Suci menjelang Hari Raya Paskah. Mengapa Filipina? Pertama, tempat ini menjadi tujuan utama juru foto dari seluruh penjuru dunia, mengingat Pekan Suci di sini selalu dihelat secara besar-besaran-termasuk momen penyaliban dan penyiksaan diri para pendosa yang kontroversial, sekalipun di dalam lingkup gereja sendiri. Kedua, Mat Kodak dimintai tolong oleh Gembong Nusantara, seorang pewarta foto lepas, untuk menemani tugas repotasenya mengenai Pekan Suci di Filipina. Ketiga, Filipina adalah satu-satunya negara ASEAN yang tidak mengenakan pajak untuk minuman beralkohol. Tujuan utama Mat Kodak memang untuk peliputan mengenai Pekan Suci, namun Mat Kodak juga menyempatkan diri untuk mengamati gejala bahasa yang terjadi di Filipina. Sambil menyelam minum air, seperti itulah.

Banyak hal tentang bahasa di Filipina yang mirip dengan yang ada di Indonesia. Saat tiba di bandara internasional Ninoy Aquino, Manila, Mat Kodak menemukan banyak spanduk dan selebaran kampanye (Filipina akan mengadakan pesta demokrasi pada bulan Mei, pemilihan presiden dan pilkada). Suasananya pun mirip dengan suasana menjelang Pemilu di Indonesia. Persaingan tidak sehat oleh para kandidatnya dengan menyayat-nyayat baliho pada bagian muka calon presiden/kepala daerah, maupun gaya bahasa yang mengangkat sentimen kedaerahan, seperti jargon yang digunakan, “Bulakenyo kat choose Bulakenyo” (orang Bulacan harus memilih orang Bulacan)-mirip dengan yang ada Indonesia, bukan? Kemudian, Mat Kodak juga menemui pariwara yang berbahasa Tagalog. Hal yang membuat Mat Kodak sedikit mengernyitkan dahi, ternyata ada banyak kosakata yang digunakan mirip dengan bahasa Indonesia. Setelah Mat Kodak bertanya kepada Giovanni Perez dan Karen Calansingin (sepasang kekasih, juga anggota dari CouchSurfing, organisasi backpackers alias turis kere terbesar sedunia, yang menjadi pemandu sukarela Mat Kodak selama di Manila), kosakata tersebut memiliki arti leksikal yang sama dengan kosakata bahasa Indonesia, bahkan bahasa Jawa. Sebut saja mahal, murah, lupa, ako (aku), utang (hutang), aso (asu [Jw.]’anjing’), bayad (bayar), dan sebagainya. Menurut Giovanni dan Karen, hal itu tidak mengejutkan mengingat kita adalah satu rumpun (Melayu), dan orang-orang Filipina awalnya memang datang dari Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Tidak hanya kemiripan bahasa, namun juga kemiripan fisik. Sering kali Mat Kodak disapa dengan bahasa Tagalog karena mereka mengira Mat Kodak adalah seorang Pinoy (sebutan untuk warga asli Filipina).

Nah, hal ini kemudian menjadi masalah bagi Mat Kodak. Suatu waktu Mat Kodak mendapatkan sambutan dengan bahasa Tagalog, dan tentu saja Mat Kodak kebingungan, mengingat Mat Kodak bukanlah seorang linguis yang menguasai banyak bahasa. Mat Kodak menjawabnya dengan bahasa Inggris, “Excuse me, I don’t speak Tagalog.” Tiba-tiba wajah orang yang meyambut Mat Kodak tersebut berubah menjadi sinis. Ada apa gerangan? Setelah Mat Kodak bertanya kepada Cyrus Gutierrez, seorang pebisnis dari City of Malolos, ibu kota provinsi Bulacan yang menjadi penampung sementara selama Mat Kodak menjelajahi kota tersebut, beliau terbahak-bahak. Menurut Cyrus, orang sinis tadi pastilah mengira bahwa Mat Kodak adalah orang Filipina yang menolak berbahasa Tagalog. Dan, orang Filipina yang hanya menggunakan bahasa Inggris adalah orang-orang kota yang mementingkan status sosial. “Penggunaan bahasa Inggris untuk pergaulan memang sangat signifikan, terutama di Manila. Orang akan merasa status sosialnya lebih tinggi saat berbicara bahasa Inggris dengan koleganya. Dan stereotip untuk orang seperti itu di kawasan daerah pinggiran, seperti Bulacan sini, orang-orang tersebut biasanya sangat sombong.” Alamakjang! Pantas saja orang yang menyapa Mat Kodak tadi langsung berwajah sinis saat sapaan Tagalog-nya dibalas dengan bahasa Inggris.

Sedikit tentang bahasa Inggris, bahasa ini memiliki posisi tersendiri di Filipina. Bahasa Inggris adalah bahasa kedua Negeri Lumbung Asia ini. Berkesempatan untuk menginap semalam di rumah Bienvenido Perez, seorang warga senior City of Malolos, Mat Kodak mencuri kesempatan untuk mewawancarai beliau mengenai perkembangan bahasa di Filipina. Beliau menerangkan panjang lebar tentang keberagaman bahasa yang ada di Filipina. “Ada lebih dari 30 bahasa yang digunakan di Filipina. Namun, sejak tahun 1987 melalui Konstitusi Filipina, bahasa utama di negeri ini adalah Filipino.”

“Lho? Bukan Tagalog, ya?”

“Jangan keliru, bahasa Filipino dan Tagalog adalah dua bahasa yang berbeda. Tagalog adalah bahasa asli negara ini, sedangkan Filipino adalah bahasa Tagalog yang telah dimodifikasi dengan sejumlah kata serapan yang sangat besar dari bahasa Spanyol dan Inggris, dan terus berkembang sampai sekarang. Mudahnya, Filipino itu Tagalog versi avant-garde. Ironisnya, sebagai bahasa utama, Filipino belum bisa mengambil alih kedudukan Tagalog, baik dalam penggunaan sehari-hari maupun dari jumlah penggunanya. Hanya sebagian orang, khususnya daerah Metro Manila, yang menggunakan Filipino. Selebihnya, ya, pakai Tagalog. Bahkan warga Palawan yang punya bahasa sendiri memakai bahasa Tagalog untuk berkomunikasi dengan warga Filipina yang lain. Tagalog menjadi semacam bahasa persatuan tidak resmi.”

Nah, lantas mengapa pemerintah justru menetapkan Filipino sebagai bahasa utama, bukan Tagalog?

“Ya itu tadi, Konstitusi Filipina. Pemerintah ingin warganya melek bahasa internasional agar Filipina bisa bersaing dengan warga dunia yang lain tanpa terhambat oleh kendala bahasa. Diharapkan, dengan kata serapan yang sangat banyak, terutama bahasa Spanyol dan Inggris, orang Filipina tidak kaget lagi dengan kosakata-kosakata asing. Namun, sepertinya 22 tahun sejak Konstitusi tersebut, hati warga Filipina masih tertambat di Tagalog. Mengenai bahasa Spanyol, orang tua seperti saya masih bisa-bisa saja menggunakannya. Bagaimana tidak? Kami dijajah Spanyol hampir 300 tahun lamanya.”

Lalu, bagaimana dengan bahasa Inggris?

“Baik-baik saja.”

“Hah? Maksudnya?”

“Kami menganggap bahasa Inggris sebagai bahasa kedua yang digunakan di saat dan tempat tertentu. Seperti di pemerintahan, sekolah internasional, bisnis, bahkan ada sinetron yang berbahasa Inggris. Surat kabar pun menerbitkan dua edisi tiap harinya: Tagalog dan Inggris. Di kurikulum pendidikan, bahasa Inggris diajarkan sejak dari bangku TK. Buku paket pelajaran pun ada dua versi, Inggris dan Tagalog-dan para siswa wajib membaca keduanya. Jadi, ya itu tadi, sesuai anjuran pemerintah, kami harus menguasai bahasa Inggris untuk bisa bersaing dengan warga dunia yang lain. Dan saya rasa, itu baik-baik saja. Bagus, malahan.”

Hmmm, pantas saja, setiap bercakap-cakap dengan orang Filipina dengan bahasa Inggris, Mat Kodak sangat jarang menemui orang Filipina yang berbicara dengan broken English. Walaupun pelafalan bahasa Inggris mereka sedikit lucu (mirip dengan karakteristik aksen Banyumasan yang mengucap konsonan lateral dengan menekuk lidah mereka sampai langit-langit rongga mulut, dan ternyata mereka tidak bisa melafalkan /v/, yang kemudian posisinya digantikan oleh /b/), namun saat mereka menggunakan bahasa Inggris, mereka berbicara sangat terstruktur dengan penggunaan tenses yang tepat! Luar biasa!

“Lantas, Mister Bienvenido, bagaimana dengan sikap Anda mengenai persaingan penggunaan bahasa Inggris dan Tagalog? Mengingat Mat Kodak mempunyai pengalaman kurang menyenangkan mengenai stereotip pada orang-orang pengguna bahasa Inggris. Berarti, bahasa Inggris memiliki kedudukan sosial yang lebih tinggi, bukan? Apakah Mister tidak khawatir berkurangnya pengguna bahasa Tagalog karena mereka suatu saat mereka akan menggunakan bahasa Inggris yang diyakini sebagai ‘pendongkrak status’ dan tidak lagi menggunakan Tagalog?”

“Bagi kami, Tagalog seperti darah, Nak. Akan terus mengalir di tubuh kami sampai kami mati. Semua pahlawan kami yang ditembak mati, termasuk Jose Rizal, menulis surat terakhir mereka menggunakan bahasa Tagalog, lho. Kami melihat Tagalog selain sebagai alat komunikasi persatuan di Filipina juga sebagai warisan kebudayaan yang patut dipertahankan. Jadi, kami sangat menghargainya. Kami juga punya aksara, namanya Baybayin. Namun, aksara ini bukan asli Filipina. Baybayin ini merupakan penyesuaian dari kitab Sanskerta, Kawi (Jawa kuno), dan Bugis (Sulawesi). Aksara ini masih masuk dalam kurikulum pendidikan. Kalau soal urusan status sosial, begini analoginya. Orang yang memakai mobil Mercedez SLK tentu merasa lebih bangga daripada orang yang hanya memakai Suzuki Carry. Namun, tetap saja keduanya berjalan di aspal yang sama: aspal Filipina. Dan kebetulan orang sini kebanyakan lebih suka dengan Suzuki Carry karena lebih gampang perawatannya dan bisa mengangkut orang banyak, serta kami mengenal mobil itu sejak lama. Sedari saya belum lahir, Suzuki Carry sudah ada. Sama dengan Tagalog. Jadi, menurut saya, sangat susah untuk tidak menggunakan Tagalog dalam kehidupan sehari-hari. Ang Tagalog ay hindi mawawala, brother! (Tagalog tak akan tergilas zaman, bung!)”

Sesaat Mat Kodak terpana akan analogi Mister Bienvenido yang fantastis ini. Mercy melambangkan bahasa Inggris, dan Carry mewakili bahasa Tagalog yang bagi mereka lebih disukai dan gampang digunakan karena bisa mempersatukan banyak orang dan sudah ada sejak lama. Juga, keberadaan aksara Baybayin ini menambahkan satu bukti pada kemiripan antara bahasa Tagalog dengan bahasa Indonesia: kami berbagi satu akar yang sama dengan mereka, Sanskerta, ditambah dengan pengaruh Jawa kuno dan Bugis.

Sungguh satu perjalanan yang luar biasa bagi Mat Kodak, bertemu dengan orang-orang kritis, namun tidak menutup diri akan hal baru, dan tetap bangga akan bahasanya sendiri. Wah, salut dengan Mister Bienvenido dan seluruh Pinoy di negeri seberang. Salamat, po! (Terima kasih!)

wawancara Mat Kodak di Filipina

Foto: Mat Kodak sedang berbincang dengan Bienvenido Perez, warga senior City of Bulacan, sembari menyantap balut-makanan tradisional Filipina berwujud telur bebek yang sudah menjadi janin. Rasanya? Sungguh enak tiada tara!

(0 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar