Stilistika 3

28 Maret, 2010 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Salam!

Saat kecil kita ditanya, “Apa cita-citamu?”; saat wawancara kerja, kita ditanya, “Apa ambisimu?” Lalu, bagaimana dengan Stilistika? Haruskah kita dengan bagak (besar hati, bangga) bertanya pada Stilistika, “Yuhuu, apa ambisimu, duhai Stilistika?”

Memang, tak lengkap rasanya jika, karena sudah bertungkus lumus dengan sejarah dalam “Stilistika 1” dan sekilas pandang Stilistika dalam “Stilistika 2”, encik dosen tamu tidak menghadirkan kalimat demi kalimat tentang ambisi Stilistika. Bahasan ini tentu penting dihadirkan agar para pembaca tak menganggap Stilistika mengambang tanpa tujuan. Benar, begitu? Kita mulai!

  1. Para ahli Stilistika berusaha menyediakan ‘data keras’ (singkatnya, data yang benar-benar bisa ditampilkan, terlihat) untuk mendukung ‘intuisi’ tentang suatu karya sastrawi.
  2. Perhatikan kata mendukung, Stilistika ternyata mendukung pembacaan teks yang dilakukan oleh orang awam dengan menunjukkan data-data linguistik yang kadang mencengangkan dan tak pernah terpikirkan oleh pembaca awam. (Salah satu contohnya adalah pembacaan karya Ernest Hemingway. Orang biasa mungkin akan menganggap karya Hemingway sebagai karya yang datar, tanpa menggunakan kata sifat dan kata keterangan, sedangkan para ahli Stilistika, dengan insting linguistiknya, akan menunjukkan letak ke-datar-an Hemingway, bagaimana kesan datar itu dimunculkan dan diolah.)
  3. Para ahli Stilistika akan membuat interpretasi baru atas karya sastrawi berdasarkan bukti linguistik.
  4. Penguasaan atas fitur-fitur linguistik dalam teks oleh para ahli Stilistika berdampak pada ditemukannya dimensi-dimensi teks yang tidak disadari oleh para pembaca awam dan, bisa jadi, penemuan tersebut dapat mengubah interpretasi pada karya.
  5. Dengan kata lain, Stilistika tak melulu mendukung pembacaan yang sudah ada, tapi juga menciptakan pembacaan yang baru.
  6. Para ahli Stilistika berusaha membangun gagasan umum mengenai bagaimana makna sastrawi dibuat atau gagasan yang secara umum benar mengenai cara kerja karya sastra. (Salah satu hal yang mereka temukan adalah bahwa sebuah karya sastra yang hebat pasti mempunyai banyak faktor yang digabungkan, jadi isi karya bisa saja muncul karena struktur tata bahasa, struktur wacana, diksi, dan lain-lain. Selain itu, makna sastrawi bisa tercermin pada tingkat tata bahasa dan stuktur kalimat, bisa dipastikan bahwa aspek bahasa tak lagi netral.)
  7. Bahasan nomor enam memang cukup serba salah karena bisa saja muncul pemikiran bahwa ahli Stilistika itu keterlaluan karena menganggap pengarang teks menjadi seorang tokoh jenius yang tahu segala macam hal tentang linguistik modern dan menggunakan kemampuan itu untuk membuat karya sastra yang hebat.

Selesai sudah! Bagaimana? Ambisi Stilistika sudah setinggi langit, kah?

Sumber: Barry, Peter. 2002. Beginning Theory. Manchester: Manchester University Press.

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar