Judul (yang) Horor

28 Maret, 2010 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Wahmuji

Maret adalah Hari Perfilman Nasional (30 Maret) dan Hari Wanita Indonesia (9 Maret). Keduanya sama-sama punya sejarah yang cukup pelik dalam perjalanan Bangsa Indonesia. Dan usaha untuk menyandingkan dan menganalisis keduanya sudah beberapa kali dilakukan. Misalnya saja, peran beberapa perempuan dalam perfilman di Indonesia oleh ‘admin mobid713’ dalam situs-web http://morbid713.voila.web.id/artikel/kartini-kartini-di-film-indonesia.html. Kompas juga pernah membuat liputan khusus mengenai kekerasan terhadap perempuan dalam film-film animasi pada 31 Juli 2009. Namun, usaha untuk menjabarkan peran perempuan dan kekerasan terhadap perempuan, dua isu besar dalam Gerakan Perempuan, sepanjang pengetahuan saya, belum pernah dilakukan secara serius dalam ranah kebahasaan.

Yang menggelitik dari pemakaian bahasa dalam film dalam hubungannya dengan perempuan pernah disinggung oleh seorang blogger di http://joyhomework.wordpress.com/2010/02/15/judul-film-indonesia-yang-berhubungan-dengan-kewanitaan/. Blogger itu memberikan delapan judul film Indonesia yang ‘berhubungan dengan kewanitaan’, yaitu  Susahnya Jadi Perawan, Maling Kutang, Tali Pocong Perawan, Hantu Puncak Datang Bulan, Virgin, Darah Perawan Bulan Madu, Kuntilanak Beranak, dan Kain Kafan Perawan. Sayang sekali, penulis blog itu hanya bertanya-tanya kenapa “banyak sekali judul film Indonesia yang memakai kata-kata yang berhubungan dengan hal kewanitaan atau yang berhubungan dengan wanita.” Dan dalam kalimat selanjutnya, dia sudah menyerah untuk menjawab dengan mengatakan, “[e]ntah apa maksud tujuan penggunaan kata-kata tersebut dalam film.” Artikel ini akan berusaha menguraikan fenomena yang sudah dengan jeli ditangkap dan ditanyakan oleh penulis blog itu.

Tinggal yang Sedang Datang Bulan

Tinggal yang Sedang Datang Bulan

Usaha untuk menganalisis fenomena ‘judul film Indonesia yang berhubungan dengan kewanitaan’ dimulai LIDAHIBU dengan membuat sebuah jajak pendapat. Angket jajak pendapat yang mulai disebarkan pada tanggal 14 Maret itu dimaksudkan untuk meminta tanggapan responden atas 9 judul film (delapan di antaranya diperoleh dari situs joyhomework). Satu judul film ditambahkan, yaitu, Maaf, Saya Menghamili Istri Anda. Tanggapan dari responden yang diinginkan LIDAHIBU adalah mengenai ‘mutu film’ yang didapatkan dari mengenali sembilan judul film di atas (film murahan, belum tentu murahan, film bagus, dan lainnya), ‘aliran film’ (laga, porno, horor, porno-horor, dan lainnya), judul film yang berhubungan dengan ‘tubuh perempuan’ (cenderung eksploitatif, biasa saja, dan lainnya), ‘efek’ pada pembaca/responden (penasaran dan ingin segera menonton, tidak nyaman [illfeel], biasa saja, dan lainnya).

Secara umum, hasil jajak pendapat yang LIDAHIBU laksanakan adalah sebagai berikut: Sebagian besar responden menjawab: (1) judul film menyatakan bahwa filmnya pasti murahan; (2) aliran filmnya porno-horor dan porno; (3) pemakaian nama anggota tubuh perempuan merupakan eksploitasi tubuh perempuan; dan (4) responden tidak nyaman (illfeel) dengan judul yang dipakai.

Judul-judul Film Porno di Internet

Jelajahilah internet. Anda pasti menemukan ribuan film porno 3GP atau format lain yang judul-judulnya sangat khas. Dari limpahan film porno itu, Anda akan menemukan contoh judul yang berhubungan dengan anggota tubuh perempuan, misalnya: Toket Dinosaur, Wah Susu Gede, SMU Sempit, Memek yang Asyik, Perawan, Toket Item2, Paha Mulus, dll.

Kutang setelah Maling

Kutang setelah Maling

Memang hanya sedikit judul film yang memakai nama anggota tubuh perempuan jika kita bandingkan dengan keseluruhan film yang pernah beredar di Indonesia, bahkan film porno sekalipun. Anda juga pasti akan menemukan beragam kekhasan lain pemberian judul film porno, misalnya yang berhubungan dengan identitas perempuan Islam semacam Cewek Berjilbab Ngentot, SMU Berjilbab Oral, dll; yang berhubungan dengan identitas sekolah atau lembaga, misalnya Seragam SMU, Kenangan Seragam Pramuka, dll; atau yang berhubungan dengan nama daerah di Indonesia, misalnya Bandung Lautan Asmara, Mahasiswi UPN Jogja, dll. Beragam fenomena pemberian judul film porno ini menarik untuk diamati. Dan akan membutuhkan sebuah esai tersendiri untuk menjabarkan fenomenanya. Untuk kepentingan esai ini, di awal, cukup digarisbawahi bahwa memang ada (dan cukup banyak) judul film porno yang memakai anggota tubuh perempuan.

Judul dalam Kajian Stilistika

Penciptaan judul film pasti berhubungan dengan isi film. Dan judul film layar lebar yang memakai tubuh perempuan, mungkin karena banyak judul film porno memakai gaya judul yang demikian, diasosiasikan dengan film biru dan film semi(-biru). Bahkan beberapa film yang sebenarnya tidak porno pun kadang memakai tubuh perempuan untuk menarik perhatian penonton. Apakah dengan memakai judul anggota tubuh perempuan, dan mengamini asosiasi pornografis pada tubuh perempuan, orang akan terdorong untuk menonton? Ataukah ada fitur-fitur kebahasaan tertentu dari judul-judul film yang mempengaruhi efek pada para pendengar/pembaca/penonton?

Kajian diksi adalah kajian pertama dari beragam judul film di atas. Kata-kata yang dipilih untuk menjadi judul film mengacu pada anggota tubuh, misalnya toket, susu, memek, dan paha; mengacu pada ‘kewanitaan’, misalnya perawan, kutang, datang bulan, virgin, beranak, hamil; dan mengacu pada ikon horor lokal, misalnya pocong, kuntilanak, dan kafan. Diksi yang mendominasi juga menunjukkan kekhasan lokalitas; kosakata-kosakatanya diambil dari bahasa percakapan. Film dengan judul seperti ini sepertinya memang diarahkan untuk pangsa pasar lokal, dan bukan untuk film yang ditampilkan di, misalnya, Cannes International Film Festival. Pangsa pasar yang disasar diasumsikan tergugah dengan pemilihan diksi sensual-lokal dan horor-lokal.

Pemberian judul film, yang tujuannya menarik minat orang untuk menonton biasanya ditulis dengan singkat, padat, mudah diingat, dan merepresentasikan inti film. Judul-judul film layar lebar yang LIDAHIBU pilih untuk dijadikan angket juga demikian. Hampir semua judul memakai asonansi (kemiripan bunyi (konsonan) di antara suku kata dalam kata-kata yang berdekatan) supaya mudah diucapkan dan diingat. Cobalah periksa dan ucapkan Susahnya Jadi Perawan, Maling Kutang, Hantu Puncak Datang Bulan, Kuntilanak Beranak, Kain Kafan Perawan. Coba ubah judul-judul film itu menjadi, misalnya Menjadi Perawan itu Sulit, Pencuri BeHa, Hantu Puncak Menstruasi, Kuntilanak Melahirkan, Bungkus Mayat Perawan. Kehilangan asonansi membuat pendengar/pembaca lebih sulit mengingat kumpulan kata-kata.

Lain lagi dengan pemberian judul film porno yang beredar dalam format 3GP. Dalam-film-film semacam ini, anggota tubuh perempuan yang menjadi kata benda seringkali diberi atribut kata sifat yang menyangatkan dan kadang hiperbolis, misalnya Toket Dinosaur, Memek Lebar, Mantab, Toket Gede Banget, dan Wah Susu Gede. Seringpula, kata-kata sensual ditempelkan, misalnya mulus, telanjang, bugil, dll. Pencitraan tubuh dalam judul-judul film porno cenderung lebih vulgar dan berani, langsung pada inti dan jenis seksualitas yang dihadirkan, yaitu menggunakan kata-kata seperti oral, anal, ngemut, dll.  Kalau film layar lebar yang memakai citra wanita dan ‘kewanitaan’, dan berorientasi menghadirkan adegan-adegan erotis, masih memperhitungkan asonansi sebagai pretensi kerapian berbahasa dan sikap malu-malu kucing, judul-judul film porno justru ingin menghadirkan keterusterangan. Sikap malu-malu nan pornografis inilah yang diandalkan untuk menarik minat penonton.

Lalu, bagaimana dengan penonton yang membaca judul-judul film itu? Mari kita tengok lagi hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh LIDAHIBU. Sebagian besar responden menjawab bahwa kesembilan judul film layar lebar yang diberikan itu merepresentasikan kualitas film murahan. Kata murahan saya anggap mengacu pada gagasan umumnya, yaitu film yang aktingnya buruk, gagasan cerita jelek, sinematografi yang tidak tergarap matang, dan karakterisasi tokoh yang tidak kuat. Latar belakang responden yang sebagian besar adalah mahasiswa Yogya dari Fakultas Sastra, yang cenderung punya pengalaman lebih menonton beragam film, pasti mempengaruhi tanggapan yang diberikan. Setidaknya, jika keinginan pemberi judul film itu adalah untuk menarik minat pemirsa dari kalangan responden LIDAHIBU, keinginannya itu telah gagal. Stigma film murahan sudah dicapkan pada gaya judul film seperti itu. Kata murahan yang dipilih para responden juga pasti berhubungan dengan aliran film yang disebut sebagai porno-horor dan porno. Para responden merasa tidak nyaman dengan judul film yang, juga oleh responden yang sama, disebut sebagai ‘eksploitatif terhadap tubuh perempuan’. Sayangnya, LIDAHIBU tidak sempat melakukan jajak pendapat untuk judul-judul film porno yang beredar di Internet. Jadi, kesimpulan ini hanya berlaku pada sembilan judul film layar lebar dengan responden mahasiswa yang kebanyakan berasal dari Fakultas Sastra.

Tubuh, Sensualitas, Eksploitasi

Merana Tanpa Pembelaan?

Merana Tanpa Pembelaan?

Menggunakan kajian stilistika untuk membaca gejala penciptaan teks dan efek sebuah teks pada pembaca tanpa kritik dan kajian lanjutan sama halnya dengan menganalisis bagaimana pandainya para Juru Citra SBY memanipulasi citra yang dibentuknya dan kita mengamini kepandaiannya itu, bahkan akhirnya mengamini citra yang dibangunnya.

Bagaimana tubuh perempuan bisa dianggap sensual?

Kecenderungan pemakaian tubuh perempuan sebagai judul film dibentuk oleh, dan membentuk, asosiasi sensual pada tubuh perempuan. Asosiasi porno atau, setidak-tidaknya, sensual pada tubuh perempuan tidak terjadi begitu saja dan tidak berlaku universal (dalam konteks Indonesia saja, tidak berlaku nasional). Sensualitas dan kepornoan merupakan atribut yang dilekatkan padanya, bukan secara hakiki ada pada tubuh itu sendiri. Ambillah contoh payudara. Kalau kita melihat gambar perempuan Jawa tempoe doeloe, kita tidak akan melihat BH yang menyangga payudaranya. Atau yang lebih kini, kita akan melihat hal yang sama pada sebagian orang Bali dan orang Papua. Asosiasi sensual dan porno yang sekarang ada terbentuk secara rumit oleh ideologi norma yang menyangga prasangka-prasangka seksual kita dan juga, sekali lagi, jaringan teks porno/berorientasi-porno yang hadir kepada kita. (R)UU Anti Pornografi dan Pornoaksi, yang beberapa tahun lalu diperdebatkan masyarakat dan hingga kini tidak jelas keputusannya, merupakan contoh prasangka seksual yang disangga oleh ideologi ‘Islam’ ala MUI.  Pendapat para peserta jajak pendapat yang sebagian besar menyatakan bahwa beberapa judul film layar lebar di atas merupakan film porno-horor merupakan hasil pengamatan dari apa yang telah hadir kepada mereka. Kata toket yang ditabukan dan disebut berulang-ulang dalam judul film porno akan membuat kata itu dengan sendirinya terasosiasikan dengan sensualitas. Dan memang ke arah sensualitas inilah tubuh perempuan dipakai dalam beberapa judul film.

Lalu, apakah tubuh sensual dalam adegan film dan dalam judul film harus tidak diperbolehkan?

Kita mulai dari jenis/isian film. Yang pasti, dan ini penting untuk diingat, secara sederhana, memang ada yang dinamakan film porno. Film-film inilah yang seringkali dijadikan landasan dasar penciptaan kebijakan ideologi tunggal semacam, lagi-lagi (R)UU Antipornografi dan Pornoaksi (semua-semua dipornokan). Film semacam ini pulalah yang menghadirkan kekerasan seksual pada perempuan (kekerasan semacam ini bisa dibagi menjadi kekerasan agresi dan non-agresi). Kekerasan agresi adalah kekerasan yang dilakukan pada perempuan hingga menyebabkan penderitaan pada si perempuan, baik fisik maupun psikis. Kekerasan non-agresi tidak menyebabkan perempuan mengalami gangguan seperti diakibatkan kekerasan agresi. Kekerasan non-agresi jelasnya terlihat pada narasi seperti ini: seorang perempuan diperkosa oleh seorang penjahat atau orang asing; awalnya, perempuan yang diperkosa itu meronta kesakitan dan menolak; setelah beberapa saat atau beberapa adegan hubungan seksual, perempuan cenderung senang dengan apa yang dialaminya; bahkan, si perempuan kadang jatuh cinta dengan pemerkosanya. Narasi non-agresi seperti inilah yang membuat stigma bahwa perempuan pada akhirnya akan mau juga dan bisa ketagihan. Lalu ada juga film non-porno, tetapi menggunakan adegan-adegan erotis untuk kepentingan keutuhan tema, gagasan, dan alur film. Dalam film seperti ini, adegan erotis memang dibutuhkan. Film seperti ini bukanlah film porno. Dan film seperti ini juga cenderung tidak akan memakai judul yang ekploitatif-murahan seperti film porno-buruk Tali Pocong Perawan. Sederhananya, mutu film pasti mempengaruhi bagaimana tubuh disensualkan.

Lain lagi dengan tubuh perempuan dalam judul beberapa film yang sebagian telah disebutkan di atas. Baik sikap malu-malu nan porno pada beberapa judul film layar lebar dan sikap terus terang pada beberapa film internet, keduanya sudah melanggengkan asosiasi sensual pada tubuh perempuan. Dan karena judul-judul film seperti itu masih beredar dan terus direproduksi, tubuh perempuan masih terus diobjekkan dan dikomodifikasi untuk kepentingan pasar.

Sayang sekali, sepanjang pencarian yang saya lakukan, belum ada yang memprotes penggunaan nama anggota tubuh perempuan dalam judul-judul film di layar lebar maupun di dunia maya. Apakah ini dikarenakan gencarnya penolakan terhadap pornografi dan pornoaksi yang memang tidak jelas definisinya, yang mungkin melahirkan anggapan bahwa pornografi dan pornoaksi, juga akhirnya film porno dengan judul-judul nama anggota tubuh perempuan, dianggap wajar dan sah-sah saja? Ataukah karena film porno yang beredar luas telah membuat orang tidak peduli dengan teks-teks narasi yang dibawanya?

Agaknya dibutuhkan penelitian lanjut untuk menjawab keabsenan protes ini.

(+5 jempol)
Loading ... Loading ...

2 komentar
Berikan komentar »

  1. Ada perbedaan yang jelas pada Sensualitas dan Pornografi, yang satu merujuk pada tubuh sebagai teks seni, sedangkan Pornografi merujuk pada tubuh sebagai teks. Dua jalur diskursus yang berbeda, dan tidak bisa diperas dalam satu masalah saja.

  2. Natan,

    Bahasa Indonesia menyerap kata ‘sensual’ dan ‘sensualitas’ dari bahasa Inggris ‘sensual’ dan ‘sensuality’. ‘Sensual’, dalam kamus Oxford Concise English Dictionary, bermakna “1. relating to the physical senses, especially as a source of pleasure. 2. arousing sexual or other physical gratification.” Sementara itu, ‘sensuality’ adalah kata benda dari ‘sensual’.

    Di tulisan Judul (yang) Horor, makna harfiah inilah yang digunakan. Dalam arti, ‘sensualitas’ tidak selalu dipadankan dengan ‘pornografi’. Alih-alih, ‘sensualitas’ dapat menjadi bagian dari pornografi itu sendiri.

    Ambil kutipan dari tulisan Judul (yang) Horor ini sebagai contoh: “Sensualitas dan kepornoan merupakan atribut yang dilekatkan padanya, bukan secara hakiki ada pada tubuh itu sendiri.”

    Di situ, jelas terlihat bahwa ‘sensualitas’ dibedakan dari ‘kepornoan’. Dua-duanya adalah ‘atribut’ yang dilekatkan pada konsep ‘tubuh’.

    Lalu, pertimbangkan yang ini: “Kata toket yang ditabukan dan disebut berulang-ulang dalam judul film porno akan membuat kata itu dengan sendirinya terasosiasikan dengan sensualitas. Dan memang ke arah sensualitas inilah tubuh perempuan dipakai dalam beberapa judul film.”

    Perhatikan pada kalimat pertama kata/frasa ‘toket’, ‘judul film porno’, dan ‘sensualitas’. Di situ terlihat ‘sensualitas’ (sesuai makna harfiah yang kedua untuk lema ‘sensual’, yang terdapat pada kata ‘toket’) menjadi bagian dari “unsur pembentuk” pornografi.

    Mungkin Anda dapat menerangkan lebih lanjut tentang Sensualitas yang merujuk tubuh sebagai teks seni.

    Salam Jilat!

Berikan Komentar