Fotografi & Citragrafi Digital

28 Maret, 2010 | Edisi: | Kategori: Khazanah Kata Bahasa Indonesia

Oleh Aditya Surya Putra

Frasa digital photography maupun digital imaging sudah sangat akrab di telinga kita, mengingat dua hal tersebut memang menjadi kegiatan yang baru digemari akhir-akhir ini. Berbekal kamera digital dan komputer jinjing dan, cilukba!, Anda sudah menjadi ‘seniman digital’. Namun, kegelisahan saya muncul saat mencoba mempelajarinya. Buyset! Istilahnya canggih-canggih bener!

Kemudian saya mencoba mencari padanan untuk kata-kata yang sering digunakan di dua bidang tersebut melalui kamus-kamus maupun forum fotografi di dunia maya (fotografer.net). Ternyata hanya sedikit referensi kata-kata yang merujuk pada istilah-istilah mahacanggih itu. Para pelaku bidang ini masih nyaman-nyaman saja dengan istilah-istilah yang mereka dapatkan dari peranti lunak yang memang menjadi media wajib untuk berkesenian di bidang ini. Sebut saja Adobe Photoshop, Lightroom, maupun Macintosh Aperture; semuanya buatan Amerika. Padahal, saya berpendapat bahwa sangatlah disayangkan jika tidak ada padanannya, mengingat bidang teknologi informasi sekarang kan baru getol-getolnya tuh mencari padanan buat Bahasa Indonesia-nya.

Berikut ini istilah-istilah yang sering digunakan dalam dua bidang seni tersebut beserta padanan yang saya tawarkan:

Digital imaging: Citragrafi digital.

Autoexposure, AE: Pajanan otomatis. Pilihan pengaturan dalam kamera otomatis di mana sistem komputer di dalam kamera akan mengatur ketepatan cahaya yang masuk ke sensor (misalnya mengatur kecepatan rana dan bukaan lensa) secara otomatis.

Viewfinder: Jendela bidik. Jendela kecil pada kamera untuk melihat object yang akan diambil oleh fotografer.

Exposure value, EV: Nilai pajanan. Besaran cahaya yang menumbuk bidang fokal.

Bracketing: Kurung siku. Teknik pengambilan gambar (biasanya 3 bingkai, dengan obyek yang sama) dengan tiga tingkatan pajanan yang berbeda: pencahayaan rendah, pencahayaan normal, dan kelebihan pencahayaan. Teknik ini digunakan untuk membuat HDR Imaging (bawah).

High Dynamic Range Imaging, HDR Imaging: Citragrafi rentang dinamis tinggi. Teknik citragrafi yang baru-baru ini sangat digemari. Dengan penyambungan beberapa sumbu luminasi untuk mendapatkan seluruh nilai tonal dari rentang luminasi subyek yang mempunyai rasio kontras yang lebih lebar dan berkesinambungan (pencahayaan rendah, pencahayaan normal, dan kelebihan pencahayaan – yang sudah dijelaskan di kurung siku), sehingga menghasilkan gambar yang seolah-olah akan ‘keluar’ dari kertas foto.

Charge coupled device (CCD) sensor: Sensor berpiranti tergandeng-muatan. Sensor untuk merekam gambar, terdiri dari sirkuit terintegrasi berisi larikan kondensator yang berhubungan, atau berpasangan. Sensor ini digunakan pada kamera digital generasi awal.

Complementary metal-oxide-semiconductor, CMOS) CMOS.: Semikonduktor-oksida-logam komplementer. Sebuah sensor jenis utama dari sensor rangkaian terintegrasi. Sensor ini diaplikasikan pada kamera digital model terbaru. Jauh lebih canggih daripada CCD sensor.

Circle of confusion, CoC: Lingkaran gamang. Sebuah lingkaran citra pada bidang fokal yang terbentuk oleh kerucut (cone) proyeksi lensa yang tidak sempurna karena obyek berada relatif jauh dari bidang fokus.

Continuous servo autofocus mode , AF-C: Modus autofokus berkelanjutan.

White balance, WB: Imbangan putih.

False colour: Warna semu. Rekayasa material dan pengolahan fotografi sehingga warna yang dihasilkan berbeda dari warna aslinya.

Liquid Crystal Display, LCD: Tampilan Kristal Cair. Suatu jenis media tampilan yang menggunakan kristal cair sebagai penampil utama. Biasanya terdapat di balik badan kamera.

Noise: Derau.

Prosumer: Prosumen. Portmanteau dari kata-kata producer atau professional dan consumer. Digunakan untuk menamai kamera kelas menengah – kelasnya diatas kamera saku digital, namun masih dibawah kamera refleks lensa tunggal (SLR). Istilah ini pertama dicetuskan oleh Marshall McLuhan dan Barrington Nevitt dalam buku mereka Take Today (1972, hal. 4).

Nah. Ini semua baru sebagian kecil, lho. Masih banyak sekali istilah-istilah yang digunakan dalam fotografi dan citragrafi digital. Mungkin ada baiknya para pelaku kedua bidang tersebut mengembangkan forum pembahasan istilah-istilah yang sudah ada di fotografer.net ataupun situs fotografi Indonesia yang lain. Atau, kita meminta para produsen peranti lunak untuk membuat produk-produknya dengan layanan bahasa Indonesia.

Ah, ngaco kamu!

Lha? Kenapa tidak? Facebook saja sudah ada layanan Bahasa Indonesia-nya, lho. Kenapa untuk Photoshop, Lightroom, atau Aperture tidak mungkin?

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

4 komentar
Berikan komentar »

  1. Ah, hebat! Terima kasih atas sumbangan kosakata barunya.

  2. Usul tentang ‘mem-bahasaindonesia-kan’ piranti lunak yang jadi alat untuk melakukan pekerjaan Citragrafi Digital sangat masuk akal!

    @Ivan Lanin: Hm… kalau boleh tahu, ini Mas Ivan yang sering aktif menulis di blog bahtera.org itu, ya? Selamat datang di lidahibu.com.

  3. Joss sekali ini, langsung masuk ke term studio. hehe.
    Sedikit pertanyaan, noise di fotografi diartikan derau juga?
    Soalnya di KBBI arti derau terbatas pada ranah suara aja.
    Ada beberapa web yang memadankan dengan ‘bintik gambar’, usulan aja, tapi ‘bintik’ gambar rasanya tidak sederajat dengan derau dalam hal tingkat gangguannya,, atau sama?

  4. Mas Andika: Terima kasih untuk apresiasinya. 🙂

    Kalau kita periksa kamus inggris-inggris manapun, NOISE pasti akan berhubungan dengan suara. Analogi adalah teknik yang dipakai oleh orang-orang fotografi untuk menggunakan NOISE dalam domain makna yang mereka maksud (bintik-bintik pada gambar yang mengganggu kejernihan gambar). Jadi, mereka mengibaratkan gambar itu seperti suara (atau olahan suara). Dengan demikian, bisa disimpulkan juga bahwa bahasa Inggris mungkin tidak punya kata yang sama seperti NOISE tapi pada ranah gambar. Dipakailah NOISE.

    Kalau sudah begitu, mengapa ragu untuk menerapkan DERAU sebagai padanan NOISE dalam domain semantik fotografi? 😉

    Tabik!

Berikan Komentar