Sekaten: Syiar Agama, Pelokalan Bunyi, dan Telur Merah

26 Maret, 2010 | Edisi: | Kategori: Fotolinguagrafi

Teks oleh Aditya Surya Putra

Foto oleh Aditya Surya Putra dan Maria Anindita Pranoto

Pada tanggal 2 Februari 2010 kemarin, tim DwiKodak bersekutu dengan UKM Fotografi ‘Lens Club’ Universitas Sanata Dharma membonceng ‘pasukan celeng’ (sebutan untuk fotografer-fotografer UKM tersebut), ‘menyerbu’ Alun-alun Utara Yogyakarta. Ada apakah gerangan? Oh! Ternyata ada acara tahunan yang diadakan oleh Keraton Kasultanan Yogyakarta dan Pemerintah Kota setempat. Acara tersebut adalah Sekaten. Tapi sebenarnya apa sih Sekaten itu? Pasar malam? Ternyata, bukan sekedar pasar malam. Lha wong ada panggungnya, kok. Konser musik terbuka macam Glastonburry Festival atau Lollapalooza? Bukan juga? Terus, apa dong?

Begini ceritanya. pada tahun 1939 Çaka atau 1477 M, Raden Patah selaku Adipati Kabupaten Demak Bintoro, dengan dukungan para Wali membangun Masjid Agung Demak sebagai tempat ibadah dan tempat bermusyawarah para wali. Salah satu hasil musyawarah para wali dalam rangka meningkatkan syiar Islam, selama 7 (tujuh) hari menjelang peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, diadakan kegiatan syiar Islam secara terus menerus. Supaya menarik pengunjung, dibunyikan 2 (dua) perangkat gamelan ciptaan Sunan Giri, dengan membawa gendhing-gendhing tertentu ciptaan para wali, terutama Sunan Kalijaga. Seiring berjalannya waktu, pagelaran wayang dan pasar malam pun diadakan dalam rangkaian acara tersebut.

Para pengunjung yang menyatakan ingin masuk agama Islam setelah mengikuti kegiatan syiar agama Islam tersebut dituntun untuk mengucapkan 2 (dua) kalimat syahadat (syahadatain) sebagai syarat awal masuk Islam. Dari kata Arab syahadatain, yang berarti ‘dua kalimat syahadat’ itulah istilah SEKATEN berasal, setelah melalui proses pelokalan bunyi antara kata serapan Arab ke Jawa. Hal ini ternyata sudah terjadi pada masa awal berdirinya kerajaan Mataram Islam dimana Sultan Agung bersikeras mengganti kalender Çaka dengan kalender Islam untuk kepentingan dakwah, namun dengan penyesuaian fonem (seperti Safar – Sapar, Jumadil Akhir – Jumadilakir, Rajab – Rejeb, Ramadhan – Ramelan, Dzulkaidah – Dulkangidah, dll).

Fakta sejarah diatas diperkuat dengan terpampangnya gapura yang kami temui di pintu masuk Sekaten. Gapura tersebut bertuliskan dua kalimat syahadat dengan menggunakan abjad Arab. Begitu pula pada saat kami masuk jauh ke dalam arena Sekaten (setelah membayar uang masuk sebesar Rp. 2000,- tentunya), langsung terdengar suara orang membacakan ayat-ayat suci Al-Quran disertai dakwah dengan sangat cepat melalui pengeras suara. Namun, suara tersebut kalah lantang dengan suara musik dangdut re-mix dari gerai-gerai penjual makanan, suara musik dari panggung, tenda-tenda hiburan seperti rumah hantu maupun atraksi motor, suara sirine kereta kelinci, dan lain-lain.

Pagelaran Sekaten diadakan kurang lebih selama satu bulan, dan diakhiri dengan upacara Grebeg. Grebeg adalah upacara adat berupa sedekah yang dilakukan pihak keraton kepada masyarakat berupa gunungan. Keraton Yogyakarta dan Surakarta setiap tahun mengadakan upacara grebeg sebanyak 3 kali pada hari-hari besar Islam, yaitu Grebeg Syawal pada saat hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar pada saat hari raya Idul Adha, dan Grebeg Maulud atau sering disebut dengan Grebeg Sekaten pada peringatan Maulid Nabi Muhammad, yang kemarin jatuh pada tanggal 26 Februari.

Menilik asal katanya, kata grebeg berasal dari kata gumrebeg – kata onomatopoeik bahasa Jawa yang berarti ‘riuh’, ‘ribut’, dan ‘ramai’. Tentu saja ini menggambarkan suasana grebeg yang memang ramai dan riuh. Gunungan pun memiliki makna filosofi tertentu. Gunungan yang berisi hasil bumi (sayur dan buah) dan jajanan (rengginang) ini merupakan simbol dari kemakmuran yang kemudian dibagikan kepada rakyat.

Namun, yang jadi perhatian tim DwiKodak adalah telur merah. Hwarakadah! Apa pula itu?

Ya, telur merah sudah menjadi jajanan khas pada saat acara Grebeg. Jika diperhatikan, penjualnya pasti mbok-mbok berumur di atas 40 tahun, membawa dagangannya dengan keranjang yang digendong. Setelah menemukan tempat yang cocok, barulah simbok mendekorasi dagangannya sedemikian rupa agar menarik perhatian. Ada apa dengan telur merah ini? Mat Kodak yang penasaran kemudian membeli setusuk telur merah seharga Rp. 3000,- tersebut (penyajiannya memang ditusuk dengan bambu dan diberi hiasan dari kertas). Rasanya? Seperti telur (ya iyalah!). Layaknya telur rebus biasa, tidak ada yang spesial dari rasanya. Hanya cangkang telurnya yang diberi pewarna merah. Namun, filosofi dibalik rasa hambar itu sungguh luar biasa!

Kata simbok penjualnya, Telur adalah cikal bakal kehidupan. Tusuk sate melambangkan bahwa kita semua memiliki poros kehidupan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan warna merah artinya ‘keberuntungan’, ‘rejeki’, ‘berkah’, dan ‘keberanian’. (Lho? Kok mirip ama filosofi warna merahnya Cina?)

Ternyata benar adanya. Menurut M.C. Ricklefs dalam bukunya Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi (1974), Yogyakarta memang mempunyai hubungan khusus dengan Cina. Mataram Islam dan Cina saling mendukung dalam hal perekonomian. Untuk itu, Keraton memutuskan untuk membangun klenteng yang letaknya sangat berdekatan dengan istana (Klenteng Gondomanan). Bahkan, Sultan HB VIII memenuhi salah satu kewajibannya sebagai raja dengan menciptakan gerakan tarian yang menggabungkan gerakan tarian serimpi dan Er Ren Zhuan, tarian khas Cina (catatan: Raja Jawa mempunyai kewajiban untuk mencipta sekurang-kurangnya satu gerakan tari semasa jabatannya).

Ditilik dari segi simbolisme dan bahasa, ternyata telur merah juga memiliki andil dalam hubungan Jawa-Cina. Merah mewakili penghormatan kepada arah angin selatan. Diafirmasi oleh simbok penjual telur, “Kalau thole beli telur merah, berarti thole menghormati Lara Ratu (Kidul). Soale, abang iku tandhane kidul, le (merah adalah simbol untuk arah selatan).” – Memang dipercaya sejak dahulu, raja-raja Yogya menjadikan Nyi Rara Kidul sebagai istri spiritual (garwa sejati, istilahnya)

Bahasa Cina untuk merah adalah hóng. Kata tersebut pada dasarnya tidak memiliki makna leksikal pada penggunaan sehari-hari. Kata itu dikategorikan dalam kalimat pembuka pada puja-puja kepada dewa. Mirip dengan fawatih (alif-lam-mim) pada Al-Quran yang tidak memiliki makna secara pasti, hanya digunakan untuk kata pembuka surat-surat tertentu. Kata ini juga diserap di kebudayaan lain untuk tujuan yang sama (India: aum, Tibet: om, Nepal: ong) yang dipercaya bertujuan untuk ‘membuka’ telinga dewa-dewi sebelum penyembahnya mengucap mantra-mantra doa. Hal ini juga mengafirmasi filosofi tusuk bambu yang disebut oleh simbok tadi, bahwa tusuk sate melambangkan kita semua memiliki poros kehidupan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, menopang telur hóng sebagai pembuka doa kita kepada semesta. Jadi diharapkan dengan memakan telur ini, kita bisa kembali lahir menjadi seseorang yang berjiwa bersih, pemberani, dan penuh keberkahan.

Sungguh luar biasa! Nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi warna merah Cina coba untuk diaplikasikan dalam setusuk telur merah tersebut. Namun, apa iya ada yang menghargai filosofi yang dalam tersebut? Sepertinya diragukan. Lha wong pas saat itu, Mat Kodak jadi satu-satunya pembeli. “Biasanya cuma laku tujuh, le. Banter-banter sepuluh.”

Usai sudah rangkaian acara Sekaten tahun ini. Yang jadi pertanyaan DwiKodak, sebenarnya sekarang ini, apa sih tujuannya diadakan Sekaten? Untuk tujuan awal – sebagai media penyiaran agama? Tidak juga. Toh, dakwah dan pembacaan ayat suci Al-Quran tersaingi oleh hingar-bingar pasar malam. Juga, tak ada seorang pun yang kami temui yang sedang mendengarkan dakwah tersebut secara khidmat. Atau demi komersialisasi kebudayaan dan meningkatkan pendapatan non-migas daerah (seperti yang tertera pada pamflet informasi Sekaten – entah kenapa Mat Kodak terbahak-bahak seusai membacanya)? Lalu? Untuk menjaga kelestarian budaya, mungkin? Hmm… boleh juga. Tapi, kalau memang niatnya kayak gitu, kok alih-alih memajang tulisan tema asli Sekaten tahun ini (Kombul Nyata Luhuring Panembah, yang artinya ‘Sesungguhnya, Dalam Berdoa Mohon Hidayah Yang Kuasa’) maupun tema nasionalnya (Memperkokoh Kebersamaan dalam Keberagaman Budaya Menuju Kemajuan Bangsa), lha panitia Sekaten malah memajang tulisan berbahasa Inggris “Sekaten One of Yogyakarta Cultural Strength” di depan pintu gerbangnya. Hayo… kira-kira maksudnya apa ya?

Foto-foto:

Grebeg Mulud, penanda berakhirnya rangkaian acara Pagelaran Sekaten.

Kalimat dua syahadat terpampang di pintu masuk pasar malam Sekaten.

Telur merah, jajanan khas Grebeg nan penuh filosofi.

Kegiatan khas yang mengisi pasar malam Sekaten: Penjual kapal othok-othok, pedagang aneka macam barang satu harga, mbok-mbok penyaji sate gajih (lemak), kereta kelinci, kelinci hidup, serta kincir angin berpenumpang.





Baliho raksasa dengan tulisan bahasa Inggris yang dipajang di sekitar pintu masuk.

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar