Analisis Wacana Pragmatik

24 Februari, 2010 | Edisi: | Kategori: Pustaka Gokil

analisis wacana pragmatik

analisis wacana pragmatik

Oleh Wahmuji

Judul buku    : Analisis Wacana Pragmatik: Kajian Teori dan Analisis

Pengarang    : I Dewa Putu Wijana dan Muhammad Rohmadi

Penerbit    : Yuma Pustaka

Kota Terbit    : Surakarta

Tahun Terbit    : 2009

Tebal Halaman : 310

Saat membaca judul buku Analisis Wacana Pragmatik: Kajian Teori dan Analisis yang ditulis oleh I Dewa Putu Wijana dan Muhammad Rohmadi, saya ingat pada perkataan seorang teman editor bahwa yang diperlukan saat ini untuk mahasiswa jurusan bahasa adalah buku-buku yang menghadirkan teori sekaligus contoh-contoh analisisnya. Saya menyetujui pendapat teman saya itu. Untuk poin penghadiran teori dan praktik analisis, buku ini layak diapresiasi. Model seperti ini sungguh dibutuhkan.

Buku ini terbagi dalam dua Bagian. Bagian 1 adalah ‘Konsep Dasar Anawa Pragmatik’. Bagian ini terdiri dari 8 Bab, yang kesemuanya merupakan wacana teoretis mengenai Pragmatik. Bagian 2 dalam buku ini diberi judul ‘Praktik Analisis Wacana Pragmatik’, dan berisi 10 Bab (tidak dijelaskan kenapa diberi nama ‘Bab’, padahal setiap judul dalam Bagian 2 merupakan esai yang berbeda). Bagian ini, seperti judulnya, merupakan bagian praktik analisis. Bagian ini memuat 75 persen dari keseluruhan isi buku. Artinya, buku ini memang sengaja mengutamakan aspek praktik daripada teori.

Di 8 bab dalam ‘Konsep Dasar Anawa Pragmatik’, pembaca akan disuguhi konsep-konsep pragmatik, mulai dari situasi tutur, tindak tutur, presuposisi, implikatur, entailment, prinsip kerjasama, prinsip kesopanan dan parameter pragmatik, hingga wacana tekstual dan kontekstual. Secara umum, semua konsep dijabarkan dengan singkat (hanya butuh 72 halaman untuk menjelaskan semua konsep teoretis dari Pragmatik).

Dalam bagian analisis, sebagian besar objek kajiannya adalah fenomena bahasa yang terjadi di Surakarta dan Yogyakarta. Objek kajiannya secara lengkap adalah sebagai berikut: Dagadu; Peribahasa; Wacana Pojok; Kesantunan dan Humor; Angka, Bilangan, dan huruf dalam permainan bahasa; Berita Artis dalam media massa cetak; Permainan Bahasa; Rubrik Wong Solo Ngudarasa; Wacana ‘Sungguh-sungguh terjadi’; dan Wacana Kampanye Politik Pemilu.

Ketika membuka lembar-demi-lembar buku ini, saya butuh banyak jeda untuk menghela nafas sehingga saya kehilangan begitu banyak waktu. Ini karena gaya menulis yang dipakai adalah gaya yang kaku, diulang-ulang, tidak efektif, dan hasilnya: tulisan yang membosankan. Gaya-tulis-ala-jurnal yang kaku ini dilengkapi lagi dengan terlalu banyak kutipan yang tidak berguna, yang dipakai sebagai pengantar dalam setiap analisis. Sebagian besar kutipan berisi konsep umum mengenai bahasa, yang tidak memiliki sangkut-paut yang signifikan terhadap analisis yang sedang dilakukan. Contoh paling baik untuk antologi kutipan ini dapat ditilik dalam Bagian 2 Bab VII berjudul ‘Implikatur-implikatur dalam Wacana Rubrik “Wong Solo Ngudarasa” Solopos’.

Di Bagian 1 ada hal teknis yang sangat mengganggu. Dalam bab V, VI, dan VII, nomor wacana/kalimat contoh tidak cocok dengan nomor pada kalimat penjelasannya. Untuk gangguan ini, editor dan bagian pracetak-lah yang harus  bertanggungjawab.

Masih di Bagian 1, saya bertanya-tanya kenapa kata-tunjuk atau deiksis sama sekali tidak dibahas. Padahal, dari beberapa tulisan yang pernah saya baca, deiksis justru menjadi penting dalam struktur tulisan modern. A. Teeuw bahkan pernah memakainya untuk menganalisis struktur sajak modern Indonesia, dan, menurutnya, penggunaan deiksis merupakan salah satu ciri puisi modern Indonesia. Saya tidak tahu apakah struktur tulisan yang sama juga ditemui di media massa yang menjadi objek kajian terbesar dari buku ini. Saya menduga para penulis buku ini merasa deiksis tidak terpakai dalam analisis yang dilakukan pada objek kajiannya. Atau, mungkin ada alasan lain. Saya tidak tahu karena ketidakmunculan ini tidak dijelaskan.

Dalam Bagian 2, saya, dan mungkin pembaca nantinya, menemukan bahwa beberapa analisis yang dilakukan sama sekali tidak memberikan tafsir lanjutan yang jati dan segar. Analisis terlihat seperti mencocok-cocokkan fenomena berbahasa ke dalam teori yang ada. Gejala bahasa hanya jadi alat untuk legitimasi teori, bukan menggunakan teori untuk membaca gejala bahasa dan kemudian memberi tafsir yang segar dengan teori yang bersangkutan.

Dalam bagian analisis, saya juga menemukan dalil-dalil Sosiolinguistik Terapan dari J. A. Fishman sering muncul sebagai kutipan (yang, saya rasa, tidak jelas fungsinya dalam analisis keseluruhan). Akibatnya, mungkin pembaca bingung mengenali batas-batas antara Pragmatik dan Sosiolinguistik. Kalau, misalnya, dalam buku ini kedua disiplin linguistik ini memang sengaja digabung atau ada unsur-unsur dari teori Sosiolinguistik yang bisa dipakai untuk membantu kajian Pragmatik, pembaca tidak akan menemukan pernyataan yang menyuratkan maupun menyiratkan penggabungan ini. Lagi-lagi, buku Analisis Wacana Pragmatik tidak memberikan penjelasan…

Seseorang, pun pembaca yang budiman, boleh bilang tiada gading yang tak retak untuk menanggapi kekurangan-kekurangan dalam buku ini. Namun, ada batas-makna yang jelas antara retak dan berlubang; ada yang berhasil ada pula yang gagal. Pembacalah yang menentukannya.

(+2 jempol)
Loading ... Loading ...

2 komentar
Berikan komentar »

  1. Bagaimana untuk saya dapatkan buku ini?

  2. kalau begitu, buku bertopik pragmatik yang mana Bang admin rekomendasikan kepada saya ?? mohon bantuannya,,

Berikan Komentar