Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia

27 Desember, 2009 | Edisi: | Kategori: Ragam, Tulisan Musiman

ilustrasi-3-tulisan-musiman-ukbi1Oleh Anna Elfira

Pengantar Redaksi: Pembaca yang berbahagia, tulisan ini adalah sebuah laporan tentang Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), yang diikuti oleh salah seorang kontributor LIDAHIBU. Mengingat bahwa bahasan tentang UKBI niscaya berfaedah bagi pembaca, LIDAHIBU memuatnya di rubrik Tulisan Musiman edisi #9 ini. Selamat membaca.

TOEFL (Test of English as a Foreign Language) sudah sangat akrab dengan kehidupan kita di masa sekarang ini. Bahkan singkatan itu sepertinya sudah menjadi jargon tersendiri untuk menyebut ‘uji kemampuan berbahasa’. Sangat banyak bidang pekerjaan yang mengharuskan para pekerjanya memiliki skor kemampuan berbahasa Inggris sekian atau di atas sekian. Tetapi pernahkah Anda mendengar tentang ‘TOEFL-nya’ Bahasa Indonesia?
Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (disingkat UKBI) ternyata juga ada. Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD), bekerjasama dengan Balai Bahasa Yogyakarta, pada 17 Oktober 2009, mengadakan UKBI, yang saat itu diikuti oleh hanya sekitar sepuluh mahasiswa. Saya membaca sosialisasi tes ini di sekretariat Fakultas Sastra. Reaksi pertama saya adalah penasaran: apalagi ini? Setelah bertanya dan mendapatkan informasi yang cukup, saya menyadari bahwa ternyata ini adalah ‘TOEFL-nya’ Bahasa Indonesia. Aneh juga, saya pikir. Kenapa istilah ‘TOEFL’ muncul dipikiran saya, ya? Padahal sudah jelas TOEFL itu uji kemahiran berbahasa Inggris. Yah, mungkin karena, seperti yang saya katakan tadi, sangkin seringnya TOEFL dilaksanakan di Indonesia, dan sangkin dibutuhkannya dia, istilah itu sudah menjadi jargon untuk menyebut ‘uji kemahiran berbahasa’. Fenomena yang saya alami ini juga sebenarnya bisa digunakan untuk membaca sesignifikan apa UKBI berada di benak para penutur Bahasa Indonesia.
Saya pun memutuskan untuk ikut UKBI di USD. Dengan membayar sepuluh ribu rupiah, saya mendaftar. (Bandingkan dengan jumlah kocek yang harus kita keluarkan untuk mengikuti TOEFL. Jauh!) Pada hari yang ditentukan saya mengikuti tes ini. Tes ini berlangsung di Lab-1, Kampus I USD, Mrican, Yogyakarta, dan dimulai pukul delapan lewat, agak molor sedikit dari waktu yang ditentukan. Sebelum tes dimulai, seorang petugas dari Balai Bahasa Yogyakarta menjelaskan beberapa hal, termasuk tujuan diadakannya UKBI.
Selidik punya selidik, ternyata, UKBI di Fakultas Sastra USD sudah tiga kali diadakan. Yang saya ikuti ini adalah kali yang ketiga. Meski sudah diadakan tiga kali namun peserta tidak kunjung bertambah. Mungkin para mahasiswa pun juga bertanya-tanya: untuk apa mengikuti tes semacam ini? Jarang sekali ada lowongan pekerjaan yang mensyaratkan calon pelamarnya memiliki skor UKBI. Jangankan cuma bingung tentang tujuan UKBI, mungkin banyak diantara kita yang mengetahui ada tes uji kemahiran Bahasa Indonesia saja tidak. Kan, semua orang bisa bahasa Indonesia. Jadi, untuk apa?
Berikut salah satu fungsi mengikuti UKBI menurut petugas itu. Untuk masuk ke lingkungan Balai Bahasa Yogyakarta, tes ini diperlukan (UKBI juga wajib diikuti oleh mahasiswa asing yang mengambil kuliah Bahasa atau Sastra Indonesia – red.). Oh, mungkin maksudnya untuk menjadi PNS penggiat bahasa Indonesia. Wah, ada ya pekerjaan semacam itu? He-he. Balai Bahasa Yogyakarta sendiri merupakan cabang dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Balai Bahasa Yogyakarta terletak di Jalan I Dewa Nyoman Oka 34, Yogyakarta. Ada sekitar duapuluh provinsi di Indonesia yang sudah memiliki balai bahasa sendiri.
UKBI yang saya ikuti berlangsung sekitar 65 menit. Tes tersebut terbagi menjadi tiga sesi, yaitu Dengaran, MK (Tata Bahasa, saya lupa namanya), dan Membaca. Untuk sesi Dengaran, peserta ujian diberi waktu 25 menit dengan jumlah soal 40 butir (20 soal dialog dan 20 soal monolog). Pada sesi Tata Bahasa, peserta ujian diberi waktu 20 menit untuk menyelesaikan 25 soal. Sedangkan di sesi Membaca, peserta disediakan waktu 45 menit untuk menyelesaikan 40 soal. Jumlah soal seluruhnya ada 65 butir. Sulitkah? Menurut saya ini lebih mudah daripada menjalani TOEFL. Mungkin karena bahasa ibu dan bahasa yang saya gunakan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia. Saya sendiri senang mengikuti tes ini. Ini menjawab rasa penasaran saya.
Hasil tes muncul dua minggu kemudian, dalam rupa sertifikat yang menerangkan jumlah skor yang saya peroleh. Tercantum di sana angka 643, dengan peringkat kemahiran Unggul. Rentang skor dimulai dari 162 (peringkat Terbatas) sampai 900 (peringkat Istimewa). Hasil tes ini berlaku satu tahun. Wah, untung skor saya lumayan. Jika tidak, malunya saya: sudah ambil kuliah bahasa asing, eh, Bahasa Indonesianya berantakan.
Tetapi, saya juga tidak tahu seberapa sah dan akuratnya tes ini. Walau demikian, paling tidak, sudah ada fasilitas yang dapat digunakan penutur Bahasa Indonesia dan orang asing untuk mengukur kemahiran berbahasa Indonesianya.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

8 komentar
Berikan komentar »

  1. mbak anna,..saya ingin menanyakan untuk tes UKBI ini kapan ya diadakan lagi?
    harus kesiapa sy bertanya? saya membutuhkan tes UKBI sebagai salah satu persyaratan mendapatkan beasiswa…terima kasih,.

  2. Hai, Mutia.

    Mbak Anna dapat kamu hubungi di http://www.facebook.com/anna.elfira .

    Tabik!
    Lidahibu

  3. Bisa kasih tau ngak bentuk soal tes UKBI kebetulan saya juga mau ikutan UKBI
    makasih.

  4. Halo mbak Anna,
    Saya adalah warga negara Perancis dans saya ingin mendaftar dalam universitas La Rochelle di Perancis untuk memperdalam bahasa Indonesia dalam tujuan menjadi penerjemah profesional setelah kuliah. Untuk di terima dalam Universitas tersebut saya sangka saya perlu membuktikan tingkat bahasa indonesia saya. Untuk itu saya ingin melewatkan UKBI kalau bisa di Bali. Saya ingin sekali melatih diri untuk ujian ini dengan mengetahui contoh soal yang pernah di berikan dalam ujian ini sebelumnya. Kira kira mbak Anna bisa berikan saya contoh ujian itu?
    Terimakasih sebelumnya

    Léa

  5. Halo, mbak Lea!
    Wah, bahasa Indonesiamu sudah bagus banget. Berapa lama belajar bahasa Indonesia?

    Saya pernah mengunduh contoh soal latihan UKBI di laman ini: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/ukbi/v2/

    Tapi mbak Lea, sayang sekali ini adalah UKBI untuk orang Indonesia, bukan untuk penutur asing. UKBI untuk penutur asing biasanya disebut UKBIPA (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia untuk Penutur Asing) dan menurut informasi yang saya dapatkan Agustus 2013 kemarin, Badan Bahasa (institusi yang menyelenggarakan UKBI) belum pernah membuat UKBIPA.

    Tapi, untuk informasi yang lebih lengkap, silakan mengunjungi Balai Bahasa Bali dengan alamat: Jalan Trengguli I, No. 20, Tembau, Denpasar.
    Atau, bisa buka laman ini: http://www.balaibahasabali.com/index.php/layanan-balai-bahasa-bali/ukbi-balai-bahasa-bali.

  6. Halo, Rini dan Mutia,

    silakan langsung datang ke Balai Bahasa Yogyakarta di Jalan I Dewa Nyoman Oka 34 Yogyakarta untuk minta layanan UKBI.

    Trims!

  7. Hai Lea,

    Dari beberapa pencarian informasi yang Lidahibu lakukan, ternyata memang sampai sekarang ini Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia untuk Penutur Asing masih dalam proses pembuatan.

    Silakan Anda periksa informasi itu di sini: http://id.wikipedia.org/wiki/Uji_Kemahiran_Berbahasa_Indonesia

    Di situ akan Anda temukan kalimat: “Pada masa yang akan datang uji kemahiran ini akan digunakan sebagai instrumen penerimaan pegawai dan syarat bagi orang asing yang ingin belajar dan bekerja di Indonesia, seperti halnya TOEFL dalam Bahasa Inggris.”

    Jadi, sekarang ini penutur asing belum bisa mengambil UKBI. Sayang sekali memang. Tapi, jangan susut semangat Anda untuk belajar bahasa Indonesia, ya. Semoga Anda mampu menggapai cita-cita Anda untuk menjadi penerjemah yang mumpuni.

    Tabik! :)

  8. Sangat menggembirakan ada UKBI.

Berikan Komentar