Filsafat Bahasa

26 Desember, 2009 | Edisi: | Kategori: Pustaka Gokil

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Judul Buku: Filsafat Bahasa
Penulis: Kinayati Djojosuroto
Penerbit: Pustaka Book Publisher
Tahun Terbit: 2007
Jumlah Halaman: 550

Ulasan

Buku filsafat bahasa macam apa yang penuh-guna bila diulas di majalah bahasa LIDAHIBU? Pertanyaan itu muncul dalam benak saya sebelum memutuskan untuk memantapkan pilihan pada pustaka Filsafat Bahasa karangan Kinyati Djojosuroto ini. Pertanyaan awal saya tadi terjawab oleh sifatnya yang menyediakan ruang penerapan nyata atas segala liukan cerita tentang filsafat, bahasa, dan filsafat bahasa yang telah dipaparkan seiris demi seiris dari awal hingga menjelang akhir halaman. Hal ini menjadi wajar terutama setelah saya mengetahui bahwa Filsafat Bahasa adalah sebuah buku materi/diktat yang secara khusus memang ditujukan untuk membantu para mahasiswa bahasa memahami sekaligus menerapkan materi-materi perkuliahan yang mereka dapatkan dari mata-kuliah Filsafat Bahasa. Tujuan khusus ini pula yang membentuk watak penyajian alur tulisan pustaka ketujuh yang pernah ditulis dosen yang mengajar di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini. Watak penyajian alur seperti apa yang dimaksud? Ya, penyajian alur yang sesuai dengan silabus kuliah Filsafat Bahasa. Bahkan, sebelum masuk ke bab pertama, Kinayati menyelipkan susunan silabus kuliah Filsafat Bahasa yang digunakan di UNJ, lengkap dengan beban studi serta prasyaratnya.

Walau demikian, bagi pembaca umum (bukan mahasiswa bahasa yang berkepentingan mengambil mata kuliah Filsafat Bahasa), usahlah Anda bermuram-durja, mundur-teratur, lalu kemudian melenggang pergi tak menoleh lagi. Justru alur pemaparan yang mirip kuliah inilah yang menjadi kelebihan buku ini. Alur tersebut memudahkan pembaca untuk melakukan tapak-tilas prayojana filasafat bahasa yang, tidak bisa tidak, memerlukan energi dan kapasitas konsentrasi yang besar.

Di bab pertama, Kinayati mula-mula memaparkan secara singkat apa itu filsafat. Memang tidak mudah memberi pemaknaan yang terang-jelas atas bahasan itu. Maka, jangan heran bila Kinayati memulainya dengan ‘daftar’ definisi yang disajikan dalam kalimat-kalimat singkat. Dari situ, pembaca diajak untuk mengunjungi tabel kategori filsafat: filsafat umum dan filsafat khusus. Di sinilah kedudukan filsafat bahasa ditunjukkan: filsafat bahasa berada pada kategori filsafat khusus, duduk sejajar dengan cabang filsafat khusus lainnya, seperti filsafat sejarah, filsafat antropologi, dlsb. Bab ini juga menjelaskan mengapa harus ada yang namanya filsafat bahasa. Penjelasan ini memberikan jawaban atas keraguan beberapa orang (mungkin) tentang pernyataan dahsyat semacam “filsafat adalah ibu segala ilmu.”

Bab-bab selanjutnya, secara umum, masing-masing menaruh titik-tekan pada tiga objek filsafat bahasa: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi “membahas tentang hakikat substansi dan pola organisasi bahasa.” Epistemologi “membahas tentang hakikat objek dan material bahasa.” Dan Aksiologi “membahas tentang hakikat nilai kegunaan teoretis dan kegunaan praktis bahasa.”

Pada bab kedua, yaitu bab “Ontologi”, pembahasan dilakukan seputar pengertian bahasa, asal-usul bahasa, perbedaan bahasa dengan tutur, fungsi bahasa, sampai pada kekurangan dan kelebihan bahasa. Di bab ini, pembaca diajak untuk melihat sejarah serta perkembangan (teori) bahasa. Gagasan dari beberapa ahli dan filsuf bahasa pun disajikan dengan alur yang kronologis, lengkap dengan logika siklus tesis, anti-tesis, dan sintesisnya.

Bab ketiga, bab “Epistemologi”, agak berbeda dengan bab sebelumnya, dipecut dengan pembahasan apa itu epistemologi dan persoalan-persoalan apa saja yang bermutu epitemologis. Hal ini kemudian ditarik ke diskusi tentang pengetahuan: beda pengetahuan dengan ilmu. Beranjak dari situlah dirumuskan dasar etimologis filsafat bahasa sebagai ilmu. Rumusan itu berbunyi demikian: “Filsafat bahasa dalam rangka perkembangan dan pengembangan filsafat bahasa itu sendiri, dasar-dasar ilmunya mencakupi: logika, penalaran, hermeneutika, imajinasi, bahasa dan pikiran, sistem komunikasi binatang, simbol-simbol dalam bahasa, esensi sastra dan esensi seni bahasa verbal dan komunikasi verbal, komunikasi verbal dan non verbal.” (Dasar epistemologis inilah yang menjadi kerangka dasar buku Filsafat Bahasa.) Di samping itu, bab ini juga menaruh perhatian besar terhadap perbedaan menarik antara filsafat bahasa dengan filsafat linguistik.

Ada berapa bab dalam buku tebal ini? Ada 15 bab. Bila objek dasar filsafat bahasa adalah ontologi, epistemologi, dan aksiologi – dan telah kita ketahui bahwa ontologi ada di bab dua dan epistemologi ada di bab tiga – lalu, dimanakah letak bab “Aksiologi”? Ternyata ada di bab terakhir, bab 15. Mengapa perlu 11 bab sebelum pembahasan tentang aksiologi dilakukan? Rupa-rupanya, unsur-unsur dasar epistemologi filsafat bahasa penting untuk dicacah menjadi bab-bab tersendiri. Kinayati menjadikan dasar epistemologi filsafat bahasa sebagai alur yang harus dilewati terlebih dahulu sebelum membahas filsafat bahasa dari segi hakikat nilai-guna teoritis dan praktisnya. Setelah melewati dasar epistemologis itulah baru seorang pembelajar filsafat bahasa dapat mantap membuka pintu ruang bahasan aksiologi filsafat bahasa. Pertanyaan besar yang coba dibahas oleh bab ini adalah tentang bebas nilai atau tidaknya filsafat bahasa. Mengapa pertanyaan ini muncul, sebagai pertanyaan besar pula? Karena sikap yang diambil manusia dalam menganggap filsafat bahasa (bebas nilai atau tidaknya filsafat bahasa), dalam kaitannya dengan pendayagunaan ilmu, akan menentukan proses dan hasil dari penerapan tersebut.

Nah, seperti halnya sebuah kuliah, buku ini juga menyajikan alat evaluasi pedagogis yang dapat dipergunakan oleh pembaca untuk mencari tahu seberapa jauh pembaca telah mencerap pengetahuan tentang filsafat bahasa yang sudah dihadirkan dari bab pertama sampai terakhir. Evaluasi ini maktub dalam lampiran buku. Selain penyajian evaluasi lewat pertanyaan-pertanyaan definitif yang mirip soal ujian, ada juga evaluasi yang berbentuk uji kasus. Di sini, pembaca dihadapkan pada beragam teks (baik itu teks sastra atau teks berita) yang mengandung persoalan-persoalan yang dapat dikaji dengan filsafat bahasa. Inilah ajang pembaca untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dari 15 bab yang merupakan rentetan logis tentang filsafat bahasa.

***

Buku Filsafat Bahasa ini sudah dengan demikian lugas menawarkan rute yang boleh ditempuh oleh pembelajar filsafat bahasa, baik yang belajar untuk kepentingan akademis maupun untuk kepentingan di luar itu. Sayangnya, ada terlalu banyak kesalahan ejaan, yang agak mengganggu kenikmatan membaca. Gaya tuturnya pun berubah-ubah: dari gaya tutur yang dingin, seperti yang dapat kita lihat dalam ‘daftar’ definisi ringkas, sampai pada gaya tutur yang mirip sebuah penyajian cerita: hangat dan akrab. Begitulah, manusia memang, sebenarnya, menggunakan bahasa agar dapat bercerita tentang apapun. Semesta ini memang diciptakan lewat cerita. Bahasa memampukan manusia memenuhi salah satu kebutuhannya yang paling mendasar. Dan Filsafat Bahasa membangun ceritanya sendiri tentang bahasa.

(+2 jempol)
Loading ... Loading ...

3 komentar
Berikan komentar »

  1. Apapun kekurangan yang ada dalam buku tersebut, harus diakui memang sangat bermanfaat bagi pemula yang baru mempelajari ilmu kebahasaan.

  2. Terima kasih, Andy, untuk komentarnya. Anda sudah berkesempatan membaca buku “Filsafat Bahasa”? Bila sudah, silakan bagi pendapat Anda lebih jauh tentang buku tersebut di sini. Pasti menarik untuk kita bahas bersama-sama. :)

    Tabik!

  3. adakah yang punya e-book buku ini? dan kalo ad bisa di download dimana ya?? :)

Berikan Komentar