cerdas kreatif meneroka bahasa

28 Oktober, 2009 | Edisi: | Kategori: Liputan Khusus, Ragam

Oleh Gideon Widyatmoko

Beruntung sekali pada hari Sabtu, 12 September 2009 LIDAHIBU dapat mengikuti Seminar Nasional “Cerdas Kreatif Meneroka Bahasa” Mangayubagya 65 tahun usia dan 30 tahun bergelar Doktor, Dr. Sudaryanto di Ruang Koendjono Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Seperti yang tertulis di judulnya, seminar ini dibuat juga untuk menghargai Pak Sudaryanto atas sumbangsih beliau dalam perkembangan dan kemajuan Bahasa Indonesia. Di seminar ini banyak sekali ahli bahasa hadir, dari yang tua sampai yang muda, dari yang mengajar sampai yang diajar. Tetapi, sayangnya LIDAHIBU sedikit sekali melihat adanya teman-teman mahasiswa yang hadir dan mengikuti jalannya seminar. Kalaupun ada, pastilah dia salah satu dari panitia pelaksana. Yah, mungkin ini juga karena semua tempat duduk sudah penuh terpesan. Jadi mahasiswa yang ingin datang sudah tidak kebagian lagi karena memang hampir tidak tersisa bangku kosong. Ramai!

Tidak lama setelah duduk di pojok, LIDAHIBU mendapatkan sebuah buku berjudul Peneroka Hakikat Bahasa, berisi 32 tulisan tentang bahasa yang ditulis oleh orang-orang yang memiliki minat besar dalam Bahasa Indonesia. Buku ini juga diterbitkan sebagai sebuah bentuk penghargaan terhadap Pak Sudaryanto; dan sebagian besar tulisannya memakai acuan teori yang dikembangkan oleh Pak Sudaryanto.

Menurut P. Ari Subagyo, salah satu penyunting buku Peneroka Hakikat Bahasa, pihak panitia memberikan undangan terbuka pada beberapa universitas dan relasi yang mungkin berminat untuk menulis dan diterbitkan tulisannya dalam rupa kumpulan esai. Lalu, setelah semuanya terkumpul, tulisan-tulisan tersebut disunting dan dikemas dalam satu buku yang ciamik. Yang lebih membahagiakan lagi, masih menurut P. Ari Subagyo, Prof. Dr. Anton M. Moeliono M.A., yang terkenal sebagai ‘begawan’ linguistik Indonesia dan pereka-cipta istilah dalam bahasa Indonesia, berkenan untuk turun-tangan merumuskan judul bagi buku tersebut.

“Peneroka itu artinya ‘perintis, pembuka lahan baru, penjelajah’. Jadi sangat cocok disandingkan dengan Pak Sudaryanto, mengingat kepakaran dan kesungguhan beliau dalam bidang Linguistik di Indonesia,” lanjut P. Ari Subagyo.

Sebelum seminar dimulai, pastinya ada kata sambutan dari beberapa pihak yang sudah jelas terlibat dalam penyelenggaraan acara ini. Sewaktu LIDAHIBU tiba di ruang seminar, Romo Rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sedang memberi sambutan. Setelah itu, acara kedua, penyerahan buku kumpulan esai Peneroka Hakikat Bahasa untuk keluarga, berlangsung. Nah, di acara itu semua anggota keluarga Pak Sudaryanto dipanggil untuk maju. Lalu, diserahkanlah buku ‘muhibah’ (tanda persahabatan dan kasih’ itu pada masing-masing anggota keluarga Pak Sudaryanto. Acara ketiga adalah sambutan dari keluarga. Yang tampil menyambut adalah anak sulung Pak Sudaryanto, Muncar Tyas Palupi M.Hum. Wanita yang cantik jelita ini mengucapkan terima kasih pada pihak yang menyelenggarakan acara seminar ini. Ia juga menyampaikan rasa bangganya pada Pak Sudaryanto, ayahnya tercinta, yang mampu menjadi seorang cendikiawan sekaligus ayah yang baik. Kemudian, acara keempat adalah ungkapan tanda kasih dari murid. Nah, ceritanya, para murid ini sepakat berkumpul dan memberikan persembahan berupa karangan bunga untuk Pak Sudaryanto. Setelah keempat acara awal tersebut selesai, barulah seminar Cerdas Kreatir Meneroka Bahasa dimulai

Seminar ini menghadirkan 5 orang pembicara: Prof. Dr. Bambang Kaswanto Purwo dari Universitas Atma Jaya Jakarta, Herudjati Purwoko M.A., Ph.D. dari Universitas Diponegoro Semarang, Drs. Tri Mastoyo M.Hum. dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dr. Sudaryanto dari Universitas Widya Dharma Klaten, dan Prof. Dr. Pranowo M.Pd. dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kesemua pembicara adalah ahli bahasa yang terdepan dalam prestasi.

Makalah-makalah yang mereka berlima sampaikan dalam seminar itu sudah maktub dalam buku kumpulan esai bahasa Peneroka Hakikat Bahasa. Nah, bagaimana para pembaca LIDAHIBU bisa mendapatkan bukunya? Buku tersebut bisa dibeli di toko buku kesayangan pembaca semua. Atau, jika tidak mempunyai ongkos untuk beli buku, bolehlah cari di perpustakaan atau pinjam sama redaksi LIDAHIBU. (Redaksi punya satu, lho – red.)

Melalui seminar ini, penggiat dan penggulat bahasa di Indonesia diingatkan oleh Pak Sudaryanto agar tetap optimis sebab sesungguhnya Linguistik Indonesia sudah sangat maju.

“Linguistik di Indonesia sudah berani melakukan pembahasan dari hal-hal yang kecil sampai yang besar,” tukas beliau mantap.

Pembahasaan hal-hal kecil ya contohnya pengkajian kata depan terhadap. Itu kan hal yang, mungkin, jika dilihat secara sekilas, adalah hal yang sepele. Tetapi analisis yang kita lakukan dapat saja berujung pada penemuan sesuatu yang besar. Nah, kalau hal-hal yang besar ya seperti analisis hubungan antar-manusia lewat kacamata Linguistik. Wuih, dahsyat sekali, ya!

Jika ternyata, seperti yang diungkapkan Pak Sudaryanto, Linguistik Indonesia sudah maju, jangan sampai kita mengalami kemunduran lagi. Bagaimana caranya agar tidak mengalami kemunduran? Kemunduran bias kita depak bila kita, para penggiat bahasa ini, berkumpul dan saling berbagi ilmu dan cerita bahasa. Sisihkan masalah usia, abaikan masalah ras, lupakan masalah agama, sampingkan masalah pangkat atau gelar yang sering menghiasi nama kita. Toh, ini juga demi kemajuan bahasa kita juga. Nah, mari kita ramai-ramai meramaikan perkumpulan bahasa. Hayuuk!

Oh, LIDAHIBU sangat bersyukur bisa menghadiri seminar nasional yang diadakan oleh Universitas Sanata Dharma dan Universitas Widya Dharma tersebut. Selain mendapat dua buku gratis, LIDAHIBU juga berkesempatan menyaksikan secara langsung para ahli bahasa itu saling berbagi ilmu dan cerita bahasa. Semoga juga suatu saat mampu menjadi ruang pertemuan para penggiat bahasa di Indonesia. Yeah!

(+11 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar