Pembentukan kata Dalam Bahasa Indonesia

15 September, 2009 | Edisi: | Kategori: Pustaka Gokil

Pembentukan Kata Dalam bahasa Indonesia

Pembentukan Kata Dalam bahasa Indonesia

Oleh Nikodemus Wuri

Pengarang       :           Harimurti Kridalaksana

Penerbit           :           PT Gramedia Pustaka Utama

Kota Terbit      :           Jakarta

Tahun Terbit    :           2007, Cetakan Ke-4

Apa salah satu kesulitan yang mungkin dihadapi orang asing ketika mereka mempelajari Bahasa Indonesia? Dari tumpukan majalah lama, saya temukan sebuah kolom Liputan dari sebuah majalah anak-anak edisi tahun 1995, judulnya “Mengapa Mereka Mahir Berbahasa Indonesia”. Di situ tergambar pandangan singkat orang asing tentang Bahasa Indonesia dan segala macam pengalaman mereka saat mempelajari Bahasa Indonesia. Dari penuturan orang-orang asing tersebut (ada yang dari Belanda, Australia, Denmark, Inggris, dan Jepang), ada sedikit masalah umum yang mereka hadapi ketika belajar Bahasa Indonesia, yaitu masalah penggunaan awalan, sisipan, dan akhiran. Jika orang asing menghadapi permasalahan seperti itu, lalu bagaimana dengan orang Indonesia sendiri? Apakah mereka sudah kebal dengan permasalahan itu? Ataukah orang Indonesia perlu meluangkan waktu sebentar untuk membaca buku-buku tentang pembentukan kata?

Masalah yang dituturkan oleh orang asing tersebut sebenarnya hanyalah satu dari beberapa proses pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia. Proses itu disebut afiksasi. Sedangkan proses yang lain adalah reduplikasi, komposisi (perpaduan), abreviasi (pemendekan), metanalisis, derivasi balik, dan morfofonemik. Pada galibnya, afiksasilah yang menempati ranking pertama untuk kemunculannya dalam proses pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia. Dengan kata lain, proses itu mempunyai sifat yang sangat produktif. Oleh karena itu, jangan terkejut apabila menemukan jumlah halaman pembahasan afiksasi yang jauh lebih banyak daripada proses-proses yang kurang produktif, seperti derivasi balik dan metanalis.

Dalam uraian latar belakang teoretisnya, Anda akan mengetahui bahwa dalam buku ini morfologi dipandang sebagai proses yang mengolah leksem menjadi kata. Dalam Linguistik, model tersebut disebut model proses. Model yang awalnya dipakai oleh para sarjana seperti Sapir dan Jesperson ini memang sangat disukai olah para ahli bahasa transformasi-generatif. Model ini memang sangat jarang dipakai dalam penyajian morfologi di Indonesia. Selain model proses, ada dua model lain dalam pembentukan kata, yaitu model penataan (model tata nama) dan model paradigma. Model penataanlah yang lebih sering dipakai dalam bahasa Indonesia. Sedangkan model paradigma sebagai model tertua dalam Linguistik tidak pernah diterapkan di Indonesia, walaupun studi tentang Bahasa Indonesia mendapat pengaruh yang kuat dari Eropa.

Walaupun secara tegas penulis buku ini, Harimurti, mengatakan bahwa ia bukanlah penganut aliran transformasi generatif, model proses tetap dipakai untuk menjelaskan materi dengan dasar bahwa model proses cocok untuk menggambarkan morfologi Bahasa Indonesia secara keseluruhan atau sebagian.

Walaupun model proses ini diterapkan, unsur-unsur lain seperti morfem, afiks dan sebagainya tentu tak boleh diremehkan karena unsur-unsur tersebut berperan sebagai bahan atau ramuan dalam mengolah leksem menjadi kata. Dalam Bahasa Indonesia, proses itu antara lain melibatkan 89 bentuk afiks dan sekitar 274 kemungkinan makna atau petanda, belum terhitung perubahan kelas yang diakibatkannya (dan ini baru dalam proses afiksasi, belum termasuk proses yang lain yang juga dibahas dalam buku ini). Masih tertarik untuk berpesta-ria dengan afiks?

Jika dilihat dari latar belakang pembentukan buku ini, maka dapat diketahui bahwa bahan inti buku ini adalah bahan kuliah morfologi bahasa Indonesia di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Bahan itu kemudian berkembang melalui serangkaian proses panjang hingga akhirnya menjadi satu buku utuh yang siap menemani Anda belajar pembentukan kata. Tak hanya difokuskan untuk memperkaya pembahasan morfologi di Indonesia, buku ini juga ingin mengetengahkan perincian dan facet-facet baru pembentukan kata sebagai hasil penelitian mutakhir. Tentu saja ada kekurangan dalam buku ini, yaitu tidak adanya jawaban dari pertanyaan “Bagaimana Harimurti sampai kepada klasifikasi atau perincian yang dijelaskan dalam buku ini?”. Namun, jika pembaca berminat pada masalah metodologis dari pelbagai aspek buku ini, pembaca dapat mengetahuinya dalam makalah-makalah singkat penulis yang terbit dalam pelbagai media ilmiah.

Karena buku ini bukanlah produk akhir yang akan menutup atau menyelesaikan semua permasalahan dalam pembentukan kata, Anda boleh saja memberi sanggahan atau bahasan untuk pengembangan buku ini lebih lanjut. Namun sebelumnya, Anda harus berkonsentrasi dan bertanya pada diri Anda sendiri: apakah Anda sudah kebal dengan permasalahan pembentukan kata? Ataukah: Anda harus segera pergi ke toko buku, ke perpustakaan, ke teman terdekat untuk mendapatkan buku ini dan membacanya?

(+4 jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar