Kata Depan atau Preposisi dalam Bahasa Indonesia

29 Juni, 2009 | Edisi: | Kategori: Pustaka Gokil

Kata Depan atau Preposisi dalam Bahasa Indonesia

Kata Depan atau Preposisi dalam Bahasa Indonesia

Oleh Armando Soriano

Penulis              : Prof. Drs. M. Ramlan

Penerbit            : C.V. Karyono

Tahun terbit    :1987

Kota terbit        : Yogyakarta

Jumlah halaman : 120

Ulasan

Buku yang ditulis 12 tahun silam ini membuka pendahuluannya dengan perihal situasi yang dihadapi Bahasa Indonesia pada saat itu: belum adanya buku tata bahasa Indonesia yang disusun berdasarkan data yang lengkap dan mutakhir. Saya sendiri lalu bertanya entah pada siapa: apakah kini permasalahan tersebut sudah diselesaikan? Mengingat situasi di tahun buku ini ditulis, mungkin bisa dipahami mengapa penulisnya memulai sebuah pendahuluan dengan mengemukakan sebuah masalah. Akan tetapi kemudian saya menyadari bahwa keadaan belum banyak berubah. Pikiran kita masih didominasi oleh masalah yang kadang bertumpuk-tumpuk itu sehingga, dalam melakukan sesuatu, yang ada pertama kali muncul di pikiran kita adalah masalah. Begitupun, hal seperti itu merupakan sesuatu yang alami, bukan? Saya sudah membuktikannya: bukankah saya memulai ulasan ini dengan membahas sebuah masalah? Sepertinya, kita dan segalanya ada karena masalah. Atau, mungkin masalah ada karena keberadaan kita?

Mari kembali ke buku yang ditulis oleh Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada ini. Buku ini mengawali penjelasannya dengan membedah fungsi kata depan dan mengulas-ulang secara singkat pembahasan-pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya tentang pokok bahasan tersebut. Menurut buku ini, kata depan merupakan salah satu aspek dari tata bahasa. Jumlah kata depan yang terbatas, hanya sekitar 115 buah, tidak membatasi pemakaiannya yang beragam. Penyebabnya adalah bahwa sebuah kata depan dapat menyatakan beberapa makna meski, di lain pihak, sebuah makna boleh pula dinyatakan dengan beberapa kata depan. Kata depan telah diacu dengan menggunakan beberapa istilah: S. Zaunuddin Gl Png. Batuah, Soetan Moehammad Zain, dan Slametmuljana menggunakan istilah ‘kata perangkai’; I.R. Poedjawijatna dan P.J. Zoetmulder, Tardjan Hadidjaja, dan C.A. Mees dan Gorys Keraf menggunakan istilah ‘kata depan’; S. Takdir Alisyahbana memakai istilah ‘kata sambung’; Madong Lubis memakai istilah ‘kata penyelit’; dan S. Wojowasito menggunakan istilah ‘preposisi’. Kata depan juga merupakan salah satu pokok yang disinggung dalam simposium Bahasa dan Kesusasteraan Indonesia pada 25 Oktober 1966 silam. Buku yang sedang diulas ini menggunakan dua istilah, yaitu: ‘kata depan’ dan ‘preposisi’ karena ,menurut hemat penulisnya, kedua istilah ini sudah lazim dipakai di lingkungan pengajaran tata bahasa Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah.

Sebagian besar isi dari buku ini adalah pembahasan tentang pemakaian kata depan. Pada daftar isi, kita dapat melihat daftar semua kata depan yang dibahas. Hal ini mempermudah pembaca untuk mencari penjelasan tentang kata depan yang diinginkan. Ternyata, kata depan itu cukup banyak dan juga beragam penggunaannya. Setiap contoh penggunaan diberikan melalui kalimat-kalimat yang memiliki ciri khas latar-waktu penulisan. Contohnya: pada kalimat [s]elain pegawai-pegawai, rakyat biasa pun harus diberi penerangan mengenai Repelita III (yang dipakai untuk menjelaskan tentang kata depan ‘selain’), atau [d]engan sangat mudah Sadeli menjawab pertanyaan itu (yang merupakan contoh untuk pembahasan kata depan ‘dengan’). Ck-ck-ck… sungguh penuh romansa.

Buku ini dapat memperluas pemahaman kita tentang hal-hal kecil tapi penting dalam berbahasa dan tentu saja pengertian-pengertian yang dapat kita daya-gunakan untuk mencegah kita tersandung kerikil kesalahan-kesalahan kecil. Paling tidak buku ini bisa menjawab penasaran-penasaran kecil kita tentang perbedaan kata depan ‘untuk’ – ‘pada’ atau ‘bersama’ – ‘beserta’; dan juga tentang aturan penggunaan kata depan ‘secara’ (yang belakangan telah mengalami perluasan makna). Penting juga mungkin bagi kita untuk mencari tahu tata tertib dan aturan yang ternyata sudah dibuat sejak lama. Ya, selain memelihara ketaatasasan, hitung-hitung, menjadi orang reflektif nan kritis, lah.

Sebaiknya, Anda langsung saja membaca buku ini bila tertarik mempelajari hal-hal kecil nan berguna tersebut – daripada terjebak dalam romansa seperti saya. Selamat menjelajahi aturan bahasa.

(+20 jempol)
Loading ... Loading ...

8 komentar
Berikan komentar »

  1. gak ada jawabannya

  2. mana nih jawabannya gue kan butuhhh

  3. Bolehkah saya titip untuk dibelikan atau difotokopikan buku ini? Terima kasih sebelumnya.

  4. Bukunya sedang diurus, Mas Ivan. Sabar, ya. 🙂

    Tabik!

  5. Salwa dan Intan: Mau mencari jawaban untuk pertanyaan apa? Coba ajukan dulu, nanti LIDAHIBU coba jawab, deh.

    Tabik!

  6. makasih atas pengertiannya,tapi kok jawabannya tidak terlalu lengkap ya…tapi tetap makasih

  7. Buku yang awalnya terbit 1980 ini sudah ditolak oleh Kridalaksana dkk. (1984). Lalu, diperbarui oleh Lapoliwa (1992) dengan pembahasan yang lebih komprehensif

  8. Buku ini lebih tepat dibaca oleh pemula. Bagi yg ingin meneliti preposisi/frase preposisi (khususnya bahasa Indonesia) harus membaca buku serupa yg ditulis oleh Pak Hans Lapoliwa karena buku tsb membahas dg lebih komprehensif dan lebih mutakhir.

Berikan Komentar