6 Proses Pembentukan Kata Baru

29 Juni, 2009 | Edisi: | Kategori: Liukan Lidah

Oleh Desy Pramusiwi*

Jika pembaca LIDAHIBU menyimak edisi #2 LIDAHIBU yang terbit minggu kedua Mei 2009 lalu secara seksama dan dalam tempo yang secukup-cukupnya, tentunya masih ingat tentang tulisan yang tertera di rubrik Asal-Usul Kata, yang berjudul ‘Nama jadi Kata’. yang. Di sini saya akan melengkapi tulisan itu dan akan mencoba mengupas lebih jauh perihal ‘asal-usul kata-kata baru’, yang beredar di kalangan masyarakat umum mau pun khusus.

Ada banyak sekali jenis proses pembentukan kata baru. Yang pertama adalah proses ‘meminjam’. Yang dimaksud dengan ‘meminjam’ adalah bahwa kata baru dalam perbendaharaan kata sebuah bahasa sebenarnya bukan berakar dari bahasa itu sendiri, melainkan ‘dipinjam’ dari bahasa bahasa lain. Contohnya saja kata robot. Dalam Bahasa Indonesia, kata robot tidak berasal dari khazanah kata Bahasa Indonesia, atau pun Nusantara, melainkan kata pinjaman dari bahasa Ceko robot. Contoh lain adalah kata piyama dan vodka. Piyama aslinya merupakan pinjaman dari bahasa Persia pajamas, sedangkan vodka berasal dari bahasa Rusia.

Proses yang kedua adalah ‘penggabungan’. Apa itu? ‘Penggabungan’ berarti bahwa mulanya ada sebuah kata yang sudah memiliki artinya sendiri ketika belum digabungkan, dan ketika kata itu digabungkan dengan kata lain terciptalah sebuah kata baru, dengan makna yang baru pula. Rumit? Untuk lebih mudahnya, mari kita telusuri kata rumah kaca. Kata rumah memiliki arti ‘sebuah bangunan untuk tempat tinggal’. Sedangkan kata kaca memiliki arti ‘benda yang keras, biasanya bening dan mudah pecah (untuk jendela, botol, dsb.)’. Kalau kata-kata itu di gabung, ada kemungkinan bahwa maknanya akan menjadi taksa. Sisi-makna ‘rumah kaca’ yang pertama, menurut KBBI, adalah ‘rumah tertutup dengan atap dan berdinding kaca untuk menanam tumbuh-tumbuhan (seperti sayuran dan buah-buahan) pada derajat panas dan kelembapan yang dapat diatur sehingga tidak terpengaruh oleh musim’, sedangkan sisi-makna kedua adalah ‘rumah yang mempunyai sifat meneruskan energi matahari yang berupa gelombang pendek ke permukaan bumi sehingga memanaskan permukaan bumi’. Lihat, maknanya jadi berubah, kan? Contoh lainnya yaitu ada bahasa tubuh, gaya hidup, dan sebagainya.

Proses penggabungan kata juga terjadi di bahasa lain. Misalnya, teleskop yang merupakan gabungan dari tele- (bahasa Yunani) yang artinya ‘jauh’ dan -scope (juga dari bahasa Yunani) yang berarti ‘melihat’.

Yang ketiga adalah ‘penambahan prefiks’. Umum diketahui bahwa bahasa Latin memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap banyak bahasa. Salah satu sumbangan terbesar bahasa Latin ke bahasa lain adalah prefiks. Maka, tak heran jika banyak prefiks Latin yang bertebaran di berbagai bahasa. Meski, kini penyebaran prefiks itu lebih banyak terjadi lewat dominasi bahasa Inggris yang agaknya menyemesta. Contoh penambahan prefiks untuk membentuk kata baru misalnya trans- dalam kata trans-Siberian, transogenik, dan transJogja (?). Atau, prefiks pos- dalam poskolonial, posmodern, dsb. Untuk yang terakhir ini, Bahasa Indonesia punya padanan yang pangkat dan maknanya sama: pasca-.

Yang keempat: penciptaan kata-kata baru lewat penggunaan merek dagang untuk menyebut makna yang dimaksud, dalam istilah bahasa Inggris disebut coinage (to coin artinya ‘menciptakan atau merancang kata atau frasa baru’). Contohnya, ibu saya menyebut kata rinso untuk meminta saya membelikan sabun cuci, padahal yang saya beli adalah sabun cuci dengan merk Attack. Sama halnya dengan seorang mahasiswa di warung bubur kacang ijo (burjo) ketika berkata, “Mas, indomie rebus tante satu.” Mahasiswa tersebut telah menerapkan dua coinage sekaligus. Pertama, dia tidak akan protes bila si penjual membuatkan mie rebus dengan merek mie Sedap, karena yang dia inginkan bukan merek mienya tetapi mie rebusnya. Sedangkan tante merupakan kata baru; dan ini disebut kata ‘bauran’ yakni pembauran dua kata. Di sini tante telah menjadi jargon dalam konteks warung burjo: pembauran tan- (dari tanpa) dan -te (dari telur). Jadi, maksud dari perkataan mahasiswa itu adalah bahwa dia memesan ‘mie rebus tanpa telur’. Akronim memang merupakan salah satu bagian dari coinage. Contoh yang sedang melanda Indonesia ini kata pilpres, capres, cawapres, bawaslu, surel, dsb.

Proses yang kelima adalah kata baru yang diambil dari sebuah nama seseorang atau nama tempat. Tentu beberapa dari pembaca LIDAHIBU pernah mendengar atau malah pernah makan sandwich. Nah, kata sandwich ini merupakan kata baru yang diambil dari nama seseorang, ‘the earl of Sandwich’, yang dianggap menemukan cara makan roti dengan menaruh potongan daging beserta sayur-sayuran di antara rotinya itu. Kata wine juga diambil dari nama seorang ahli anatomi berkewarganegaraan Amerika Serikat ‘Caspar Wistar’. Tabasco, dari merek saus-pedas-kecut Tabasco juga diambil dari nama sebuah sungai, ‘Tabasco’, yang mengalir di Meksiko.

Yang terakhir adalah kata-kata zaman baheula yang sekarang ini masih tetap dipakai tetapi telah berubah maknanya. Contohnya saja, cabaret. Kata ini dulunya memiliki arti ‘kamar atau bangsal’, tapi sekarang cabaret dipakai untuk untuk menyebut ‘tipe restoran tertentu’.

Nah pembaca LIDAHIBU yang budiman, saya telah memaparkan keenam proses pembentukan kata baru. Tentunya masih banyak sekali kata-kata baru lain di luar sana. Bila Anda, para pembaca LIDAHIBU, dapat menemukan kata-kata baru sesuai dengan keenam proses tersebut, saya rasa LIDAHIBU akan bersuka hati menerima masukan Anda sekalian (seperti sukanya hati LIDAHIBU menerima tulisan ini – red).

(*) Mahasiswi jurusan Sastra Inggris USD yang sedang bergulat dan mencoba untuk lulus tepat waktu karena desakan diri sendiri, orangtua, calon mertua, dan pacar

Sumber:

Baugh, C Albert. A History of the English Language. Prentice Hall Inc.: New Jersey, 1963.

(+1 jempol)
Loading ... Loading ...

2 komentar
Berikan komentar »

  1. saya suka tulisan mbak. kebetulan saya penikmat bahasa Indonesia yang baik.
    Salam kenal,
    Salman

  2. tolong buat tulisan gaya fiksi ya…

Berikan Komentar