Kolom Bahasa

24 Mei, 2009 | Edisi: | Kategori: Redaksi Menyapa

Oleh Redaksi LIDAHIBU

Bagi penutur dan penyuka Bahasa Indonesia, kehadiran kolom bahasa di suratkabar atau majalah tentu memberikan keasyikan tersendiri. Kolom bahasa, yang artikel-artikelnya menyumbangkan banyak pikiran menarik tentang bahasa dan kebahasaan Indonesia, tampil tidak hanya sebagai ajang gelegar-nalar (ke)bahasa(an), tapi juga sebagai arena pelontaran kajian dan saran membangun yang berfaedah buat pelestarian dan perkembangan Bahasa Indonesia.

Kendati demikian, di luar keperkasaan sebuah kolom bahasa di kalangan penyuka bahasa, terjadi juga sebuah gejala pembiaran (baca: pengabaian) apa-apa yang dapat orang sua dalam kolom bahasa di, katakanlah, suratkabar. Banyak tawaran padanan, kritik penggunaan istilah, dlsb., yang sebenarnya berdaya-guna dan masuk-akal, tidak diindahkan, minimal oleh para pewarta yang menghuni suratkabar tersebut.

Contoh yang menarik adalah pengabaian yang terjadi di KOMPAS. Pengasuh Kolom Bahasa KOMPAS, Salomo Simanungkalit, pernah menawarkan kata petahana sebagai padanan istilah Inggris incumbent. Kata petahana sendiri diakui sebagai lema dalam KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat. Dari pemaparan Salomo, dapat orang setuju dengan tawarannya. Anehnya, tawaran tersebut, setidaknya sampai saat ini TIDAK PERNAH dipakai oleh para pewarta KOMPAS. Kata ‘kenes’ incumbent tetap saja digunakan.

Gejala ini, memaksa LIDAHIBU untuk menjadi ragu terhadap kebenaan (padanan: signifikansi) sebuah kolom bahasa dalam mediamassa. Kehadiran kolom bahasa mencipta suasana taksa, mendua: senang sekaligus sedih. Senang karena, di tengah arena pacuan perekembangan Bahasa Indonesia yang kian absurd, masih ada mediamassa Indonesia yang bersedia meluangkan sebuah kolom bahasa seminggu sekali. Sedih karena, meskipun ada, kolom itu bagai kehilangan tuahnya: diabaikan.

Pramoedya Ananta Toer pernah menulis bahwa sikap untuk menyerahkan kendali kebahasaan kepada masyarakat penutur adalah sikap yang semakin menguatkan citra mandul dari sebuah bahasa. Masyarakat penutur memang yang mengawangi pelestarian dan perkembangan sebuah bahasa. Tapi, terlebih dalam kasus sebuah bahasa nasional (bahasa pemersatu bangsa), tidaklah layak untuk melakukan hal yang demikian. Bagaimana mungkin masyarakat penutur umum dapat ajeg memakai tawaran kata baru kalau lembaga yang menawarkan kata tersebut saja tidak pernah memakainya?

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

2 komentar
Berikan komentar »

  1. Mungkin jejaring pelaku di surat kabar sudah terlanjur nyaman dengan kebiasaannya bertutur dan menulis. Ingat, kekenesan itu ‘kan yang menjadi gejala umum. Saya membayangkan seorang penulis berita dalam surat kabar menderita takanan kejiwaan seperti ini: jika ia menulis dengan gaya dan kata-kata yang kurang tenar di kalangan pembaca yang ia bayangkan hidup dalam kekenesan bahasa, ia takut kurang dipahami atau ia tidak percaya diri. Hal ini memberikan keleluasaan pada penulis itu untuk lepas dari “jeratan” kritik atas penggunaan bahasa. Mungkin ia akan bilang begini, “mana tau orang awam kata ‘petahana’, ‘bena’, ‘sangkil’, ‘mangkus’, ‘ananta’, ‘saujana’ dan lain sebagainya.” Maka amanlah dia dari kritik para pemerhati bahasa. ia lupa, bahwa ia jugalah yang membuat para pembaca tidak mampu berimajinasi dengan bahasa ‘sendiri’. maka, ia jugalah yang menjaga keterpurukan bahasa di jurang kekenesannya.

  2. –’kurang-tenar’ dan ‘orang awam’–

    sepertinya, sampai kini, dua istilah itu kok sering sekali ya dipakai waktu sedang ngomongin pemakaian bahasa di koran-koran atau televisi. nah, aku sendiri bingung. apa maksudnya istilah itu? apa artinya ‘kurang tenar’ dan ‘orang awam’? oh, ya. ada satu lagi, kalau tak salah ‘yang umum dipakai di masyarakat’. ‘masyarakat’ yang mana, ya? aku pikir alasan-alasan seperti itu sama saja bohong. tak ada nyangkut sedikit pun di kepalaku. ya, karena tak masuk akal dan cenderung cari-aman itu tadi. sering kok aku lihat malah koran-koran berspekulasi dengan istilah-istilah garapan sendiri yang tak jelas motif maknanya. hanya biar terlihat ‘gagah’ mungkin. ya, memang sih, ‘gagah’, ‘kenes’, ‘terlihat intelek’, semua itu lama-lama jadi terdengar basi. tapi, mau apa lagi. yang basi itu yang, menurut aku lho, benar. dan mengakui yang benar, basi pula, emang susah. hehehe…

Berikan Komentar