Cakupan Linguistik

17 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Apa kabar? Semua sehat walafiat? Otak tentu harus sehat, sebab KULTUKAL hadir lagi menjumpai anaknongkrong semua. Apa bahasan kali ini? Pada LIDAHIBU edisi percobaan #8, encik dosen Ginting Munthe, sudah menyelesaikan bahasan tentang sebelas tahap penyandian dan penerjemahan pesan dalam berbahasa. Sayang, beliau sedang mengambil kuliah di Negeri Antah Berantah. Pada edisi kali ini, KULTUKAL akan diasuh oleh dosen tamu, yang pastinya perkasa dan jelek. Langsung saja pada bahasan kita kali ini: cakupan/bidang-bidang dari linguistik umum.

1.         Linguistik umum mencakup sejumlah topik-topik yang luas, yang pembatasan-pembatasannya sangat sulit untuk didefinisikan, yaitu fonetik, fonologi, sintaksis, dan semantik.

2.         Fonetik, ilmu tentang tutur-suara-manusia, dianggap lebih sebagai ilmu pengetahuan dasar dari Linguistik daripada sebagai bagian dari linguistik.

3.         Fonologi, sintaksis, dan semantik adalah ‘roh’ atau inti utama dari Linguistik, mereka bertigalah yang pada akhirnya melahirkan sebuah tata bahasa dari sebuah bahasa (dalam beberapa bacaan lain istilah ‘tata bahasa’ hanya mengacu pada sintaksis, hanya masalah perbedaan istilah).

4.         Fonologi adalah ilmu tentang penyusunan bunyi manusia, misalnya analisis mengenai bunyi /p/ dalam kata bahasa Inggris spot dan pot; Sintaksis (dalam bahasan ini disebut sebagai ‘sintaksis cakupan besar’) terdiri atas sintaksis (ilmu penyusunan kalimat) dan morfologi (ilmu penyusunan kata); Semantik adalah ilmu kajian makna.

5.         Selain ketiga inti dari Linguistik tersebut, ada cabang-cabang lain yang berkembang pada masa sekarang: psikolinguistik (ilmu tentang hubungan bahasa dengan akal budi/pikiran), sosiolinguistik (ilmu tentang hubungan bahasa dengan masayarakat), linguistik antropologis, linguistik filosofis, linguistik matematis, stilistika, dan pengajaran bahasa.

6.         Ada pula linguistik historis (ilmu tentang perubahan bahasa) yang menawarkan kesempatan untuk mempelajari suatu tata bahasa dalam satu kurun waktu tertentu atau mempelajari perkembangan tata bahasa tersebut dengan membandingkannya pada satu periode waktu ke periode yang lain.

7.         Analisis bahasa hanya pada satu periode waktu (keadaan) disebut analisis sinkronis, dan analisis yang membandingkan bahasa pada satu periode ke periode lain disebut analisis diakronis.

Encik dosen tamu heran, tulisan ini sepertinya tidak lucu sama sekali, padahal encik dosen tamu ingin sekali menghibur. Yah, semoga berfaedah!

____________

Sumber bacaan: Aitchison, Jean. Linguistics. New York: Hodder and Soughton, 1978.

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

8 komentar
Berikan komentar »

  1. “Fonologi, sintaksis, dan semantik adalah ‘roh’ atau inti utama dari Linguistik, mereka bertigalah yang pada akhirnya melahirkan sebuah tata bahasa dari sebuah bahasa”
    lalu, morfologi mau ditaruh di mana???
    semantik itu ada tapi tiada karena objeknya tidak jelas.
    oiya, fonologi tidak dapat dimasukkan ke tatabahasa. morfologilah yg bisa dimasukkan ke tatabahasa. *buka kamus linguistik kridalaksana

  2. Gara-gara ada yg komen, saya jadi baca tulisan ini. Dan hmmm fonetik masuk linguistik? Oh ya? Fonetik memang bidang ilmu yang diperlukan untuk mempelajari dan memahami fonologi, tetapi bukan berarti fonetik adalah linguistik. Fonetik mengkaji bunyi manusia, analisisnya berupa gelombang-gelombang suara. Lebih tepat jika masuk ke Fisika. Linguis boleh saja memakai analisis fonetik, tetapi hanya sebagai alat bantu analisis, bukan yg utama. Sedikit cerita, seorang rekan menyusun tesis dalam fonetik dan para dosen penguji melabeli tesisnya dengan tesis untuk jurusan Fisika. Sejak saat itu, saya semakin berhati-hati kalau mau “mengakui” fonetik dalam cakupan linguistik.

  3. @ikmi: tapi intonasi kalimat masuk kajian fonetik, lho. sy setuju fonetik bukan linguistik, tapi ilmu lain yg paling “membantu” dlm linguistik. terutama utk menjelaskan bahasa2 bernada.

  4. @Bebe: Ah, kamu ini. Membacanya jangan sepenggal-sepenggal dong. Hehehe… Di artikel itu sudah terang-jelas disebutkan bahwa memang terdapat perbedaan pemahaman tentang istilah “tatabahasa” dan “sintaksis”. “Sintaksis”, menurut Aitchison, mencakup ‘morfologi’ dan ‘sintaksis’ (dlm pemahaman kontemporer sekarang. Dan yg dimaksud dengan tatabahasa adalah keseluruhan tatacara dalam sebuah bahasa. Maka, ya, fonologi masuk ke dalam tatabahasa untuk pengertian ini. Fonologi itu kan cabang linguistik yg penuh aturan (cth. dlm bhs Inggris: berikan aspirasi pada konsonan henti tak-bersuara ketika bunyi tersebut berada pada posisi awal dr sebuah sukukata yg bertekanan.) Naah, kalok udah bertabur aturan gitu kan berarti ya itu bagian dr tatabahasa. Namanya juga ‘TATAbahasa’. Hehehe… Jadi memang ini cumak masalah beda istilah aja. Buku acuan yg dipakai terlalu jadul sepertinya. :)

    Dan, kalau Anda bilang ilmu makna itu ada dan tiada, waaah… Gawat dong?! Mana ada bahasa kalo nggak ada makna?! Mau belajar fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis sampe ngelotok juga percuma kalo semantik nggak ada. Lha wong yg membuat bahasa itu ada ya makna. Semantik itu ya objeknya jelas banget. Metode analisisnya juga sudah mantap dan kokoh: ada analisis kontrastif, analisis komponensial, ada juga teori tindak-wicara (Austin, Searle, Grice); dan yg mengembangkan ilmu linguistik itu ya makna. Mana ada teorinya Halliday kalo nggak ada semantik? Lha wong teknik analisis tatabahasa fungsional sistemik itu menggunakan analisis level semantik, kok. Bahkan, mana ada teori dunia-teks yg dirintis sama Paul Werth di Inggris pd tahun 1995 itu kalo nggak ada ilmu makna? Teori dunia-teks itu akut mengais-ais citra maknawi yg secara kognitif diproduksi oleh otak manusia saat berhadapan dengan bungkusan bahasa yg berisi pesan-pesan. Hehehe…

    Tabik! :)

  5. Iya, saya setuju, intonasi kalimat adalah kajian fonetik (suprasegemental) yang membantu kajian linguistik. Terima kasih atas tambahannya. :)

  6. Objek fonetik –> fona
    Objek fonologi –> fon
    Objek Morfologi –> morfem
    Objek Sintaksis –> kata, frase, klausa, kalimat

    Jadi, Objek semantik –> apa?
    ? makna? makna itu tidak berwujud, tapi ada. kalau Anda katakan berwujud, wujud konkretnya apa? tidak ada kan?!
    nah, makanya sy bilang “ada tapi tiada”.
    Semantik itu baru ada setelah adanya tuturan shg baru bisa dimaknai. kalau titik tolaknya makna dr penuturnya, seharusnya pragmatik (makna konkret) yg lebih memegang peranan dlm linguistik, bukan semantik (makna formal).

    Kalau masalah sintaksis-morfologi, perbedaannya pasti dpt ditemukan pada pendeskripsian “kata”. Bagi morfologi, yg difokuskan adl ihwal pembentukan kata (1 kata –> 1 arti, bs 1 atau byk ‘informasi’). Bagi Chomsky, morfologi cuma “membantu” sintaksis karena bukan bentuk kata yg menentukan konstruksi klausa/kalimat, tapi konstruksi klausa/kalimat yg menentukan morfem2 yg dipakai.

    Btw, sy bukan penganut SFL, dan kurang tertarik dg buku2 SFL (Halliday), biarpun dikatakan jadul, sy bs menjelaskannya.
    Jadi, intinya, mgkn lho ya (karena sy bukan peramal, cuma penduga2) Anda berpendapat (dg buku2 acuan Anda di atas) bhw makna lebih dulu dibandingkan wujud konkretnya (bahasa), sedangkan sy justru sebaliknya.
    Kalau sy bs meramal “makna” yg akan Anda katakan, hebat sekali! Tapi sekali lg, sy bukan peramal sehingga jika sy ingin tahu “makna” yg ingin Anda maksud, Anda perlu mengatakannya shg sy bisa mengetahuinya dr kalimat yg Anda katakan.
    hehehe

  7. ralat
    fonologi –> fonem

  8. Hahahahaha… Kok rasa-rasanya aku pernah terlibat dgn pembicaraan macam ini, ya? Mana-duluan-ayam-apa-telur? Xixixi… Gini aja deh, drpada obrolannya berserakan, aku tanya dulu: Apa maksud Anda mengatakan “lalu, morfologi mau ditaruh di mana??? semantik itu ada tapi tiada karena objeknya tidak jelas” dalam konteks komentarmu terhadap artikel Cakupan Linguistik ini? Daripada energi terbuang untuk bersilat-lidah padahal sebenarnya aku sdg salah paham. ;)

Berikan Komentar