Poster Calon Presiden BEM USD

15 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

poster pilpres usd yogyakarta

Poster Pilpres BEM USD Yogyakarta

Oleh Wahmuji

Pemilu untuk ‘mencari’ Presiden dan Wakil Presiden BEM USD telah selesai digelar. Pasangan Rere dan Eka (keduanya merupakan perempuan) memperoleh suara terbanyak. Jadi, sebelum kita ngalor ngidul ngomongin gejala lain dalam pemilihan itu, LIDAHIBU mengucapkan selamat atas terpilihnya Rere dan Eka.

Apa yang menarik dari “Pemilu Raya” USD jika ditinjau dari perspektif linguistik? Tentu saja LIDAHIBU tidak akan membahas (secara mendalam) bagaimana tim sukses setiap kandidat membujuk massa untuk memilih mereka, atau bagaimana visi kandidat terpilih akan dilaksanakan. LIDAHIBU akan berkonsentrasi pada bagaimana setiap kandidat mempopulerkan diri mereka melalui poster. Jadi, LIDAHIBU akan mengutak-atik gejala penciptaan citra setiap pasangan kandidat dari poster yang mereka sebarkan.

Poster pertama adalah poster pasangan kandidat Irawan-Pius, atau yang mereka singkat dengan I-Pe. Setahu saya, pasangan ini mencipta dua poster yang berbeda. Poster yang pertama: hitam putih, bergambar dua orang yang tidak cukup jelas ngapain (satu orang tergeletak dan satu orang lagi menunjuk dan seperti memberikan uang), bertuliskan slogan “Gak ada yang gak mungkin!!!”, visi (atau misi?) “Membuka Ruang Kesadaran Komunitas & Mendorong Kultur Akademis”, dan jadwal Pemilu, kampanye I-Pe, dan Debat Antar Capres. Poster yang kedua: berwarna, bergambar dua Kandidat yang diambil dari belakang (yang pertama adalah Irawan dengan tangan kanan sedang memegang dudukan-mik yang mik-nya berada di dekat mulut Irawan seolah-olah ia sedang berbicara pada massa dan tangan kiri menengadah ke depan dengan telapak tangan terbuka; yang kedua adalah Pius dengan tangan kanan diangkat sambil memegang kaca-pembesar dan tangan kiri memegang kertas). Gambar mik dekat mulut Irawan dan setiap tangan kandidat ini (kecuali tangan kanan Irawan) dilingkari dengan garis merah dan dari lingkaran tersebut ditarik garis yang mengarah pada bahasa verbal simbol-simbol yang bersangkutan. Dari mik diverbalkan kata-kata: “gak cukup bicara tapi BERANI MENYUARAKAN pendapat dan aspirasi mahasiswa: dari tangan kiri Irawan: “Dengan TANGAN TERBUKA mampu menerima siapa saja”; dari tangan kanan Pius: Jeli dan Peka melihat masalah sosial yang terjadi”; dari tangan kiri Pius: “Namanya juga mahasiswa harus BERWAWASAN LUAS, akademis, dan intelektual.” Sedangkan tulisan dengan font paling besar sebagai slogan berbunyi “Gak cukup nampang, gak cukup bicara.” (Ingat, deskripsi di atas adalah metabahasa karena citra tidak bisa di”duplikasi” dengan kata-kata).

Kedua poster tersebut memiliki beberapa persamaan: yang pertama, keduanya mengangkat ke-akademis-an mahasiswa; dan yang kedua, membuat slogan nama-kandidat “I-Pe”. Keduanya juga memiliki perbedaan isi: poster hitam-putih menyertakan beberapa jadwal yang berhubungan dengan pemilu, sedangkan poster berwarna lebih banyak bermain dengan gagasan-gagasan yang diwakilkan dengan gambar dan teks pendamping berupa kata-kata.

Kata-kata “Namanya juga mahasiswa harus BERWAWASAN LUAS, akademis, dan intelektual” inilah yang sepertinya menjadi impian dari I-Pe. Mahasiswa (USD), yang memang dasarnya mesti akademis, masih dilihat tidak memenuhi standar ke-akademis-annya. Mahasiswa bermain dengan nalar teoritis. Dengan modal inilah mahasiswa bisa disebut mahasiswa, anak kuliahan, bukan anak SMA lagi. Kata-kata ‘akademis’ dan ‘intelektual’ memang menjadi acuan abadi kemahasiswaan. Pasangan I-Pe ingin menegaskannya kembali. Namun, sepertinya, kecenderungan mahasiswa untuk tidak terlalu akademis dan intelek justru menjadi teks-oposan utama slogan ini. Coba tanyakan pada mahasiswa (USD): Apa bedanya ‘akademis’ dan ‘intelek’? Sebagian besar mahasiswa akan kebingungan menjawabnya. Sebagian besar mahasiswa (USD) tidak siap menjadi akademisi dan bersikap intelek!

Slogan “I-Pe” untuk menyebut nama pasangan kandidat adalah indikasi pengaruh fenomena perpolitikan nasional, yaitu penyingkatan SBY-JK yang sudah menjadi panggilan akrab bagi Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Pasangan I-Pe mencoba meniru keberhasilan pengakraban ini. Pasangan, yang kemudian disingkat dan diberi tanda hubung, bisa dilihat sebagai pasangan yang cocok, saling melengkapi, dan tak terpisahkan. Pasangan seperti itu menjadi ikon ideal pasangan pemimpin. Ini dipertajam di poster berwarna dimana kandidat presiden berbicara dan kandidat wakil presiden memegang teks. Wakil presiden menganalisis, presiden berbicara. Wakil presiden memperluas wawasan, keakademisan, dan intelektualitas mahasiswa, presiden menyuarakan pendapat dan aspirasi mahasiswa-mahasiswa tersebut.

Tampaknya terlalu banyak yang ingin disampaikan pasangan kandidat ini. Satu jenis poster tidaklah cukup. Disamping ingin menyampaikan gagasan, mereka juga memberitahukan jadwal-jadwal penting seputar “Pemilu Raya”. Mahasiswa adalah ‘masyarakat’ yang sibuk. Waktu pemilihan, jadwal kampanye, dan sesi debat harus diwartakan berulang-ulang dan secara sporadis lewat tulisan agar bisa masuk ke alam bawah sadar mereka dan dengan demikian mereka akan otomatis mengingatnya. Perlu diingat, sebagian besar mahasiswa (USD) adalah masyarakat apolitis, tidak berwawasan luas, tidak intelek, tidak akademis, tetapi selalu (terlihat) sibuk.

I-Pe membedakan ‘bicara’ dan ‘menyuarakan pendapat dan aspirasi mahasiswa’. “Bicara”, menurut mereka, tidaklah cukup. Dibutuhkan “keberanian menyuarakan pendapat dan aspirasi mahasiswa.” “Bicara” di sini berarti “omong kosong”, dan “menyuarakan” berarti “membawa pesan”. Hal ini menandakan oposisi biner dari pemimpin dalam masyarakat demokrasi yang mengemban (yang artinya punya keharusan untuk mampu) suara masyarakatnya di satu pihak, dan ketidakmampuan pemimpin menyelesaikan masalah masyarakat (baik ekonomi, politik, hukum, seni, pertentangan agama, dll.) dan hanya mbacot saja di pihak lain. Kesibukan kata-kata dalam poster berwarna I-Pe juga bisa dilihat sebagai paradoks atas kritiknya terhadap sibuknya mahasiswa dan kritiknya terhadap “gak nampang, gak cukup bicara” mereka sendiri. Poster selanjutnya dari pasangan kandidat Bondan dan Benny. Poster tersebut bergambar dua kandidat yang dibingkai terpisah, masing-masing berpose sendirian. Bondan memakai topi, matanya serius melihat ke depan-atas, dan kedua tangannya saling menggenggam seakan sedang mengamati sesuatu dan berdoa. Benny Sitanggang memakai baju hangat (jumper yang menjadi ciri khas rapper Afro-amerika) bertuliskan “BUGLE BOY” (sepertinya Benny adalah tukang niup terompet di ketentaraan); tangan kanannya diarahkan ke depan, tapi hanya sampai pergelangan siku, dan telapak tangannya membuka memperlihatkan kelima jarinya yang ditutupi dengan kaos tangan ketat; matanya memandang sipit seakan sedang secara serius mengamati sesuatu. Tulisan pendamping gambar cukup banyak. Yang pertama adalah dua tangan bertuliskan “Humanisme” dan “Kritisisme” yang dirantai. Kedua tangan itu sepertinya digantung, tetapi telapak tangan menggenggam seakan menandakan kekuatan dalam ketakbebasan. Di bagian pojok kiri atas ada papan penunjuk yang bertuliskan “Universitas Sanata Dharma” dan papan itu mengarah pada kata-kata “MENUJU KEBIJAKAN YANG HUMANIS” yang diberi keterangan “Revitalisasi Peranan Mahasiswa dalam Dinamika Universitas”. Di bawah tulisan itu (yang juga berarti di atas gambar kandidat) ditulis “THE NEXT CANDIDATE/PRESIDENT & VICE PRESIDENT” (jika anda tidak tahu: tanda ‘/’ dalam kutipan di atas mengindikasikan perbedaan baris) dan di bawah gambar masih ditulisi “Change One Thing, Change Everything”.

USD mengaku sebagai kampus humanis dengan slogannya “memadukan keunggulan akademis dan nilai-nilai humanistik”. Slogan, sebagai suatu impian, suatu janji yang merupakan idealisme, ternyata hanya tinggal omong kosong. Kebijakan-kebijakan kampus dalam mengambil keputusan dilihat sebagai suatu tanda omong kosong tersebut, contohnya: kenaikan uang UKT dan SKS, jam malam bagi mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan, ketidakkonsistenan boleh tidaknya iklan rokok masuk kampus, pembangunan gedung baru yang lebih mewah padahal kampus mengaku kekurangan dana, pembatasan usia studi yang dilakukan sebagai cara menjaga citra dan akreditasi, dan tidak dihitungnya suara mahasiswa dalam pengambilan keputusan kampus. USD terlalu berat di slogan. Namun, justru dari slogan itulah terdapat celah untuk lebih baik, yang artinya, mengikuti slogan itu sendiri, lebih humanis. Hal itulah yang sepertinya menjadi kegelisahan pasangan Bondan-Benny. Mereka langsung menembak visi kampus. Dan ke sanalah mereka akan bergerak (jika jadi presiden). USD menjadi pengkhianat atas slogannya sendiri. Dan “kita” harus kritis melihat pengkhianatan memalukan ini. Peranan mahasiswa sebagai bagian integral universitas sepertinya lagi nggak fit. Maka peranan itu harus disegarkan, diutak-atik agar lebih berperan lagi, dan akhirnya mahasiswa (bersama sang Bondan-Benny tentunya) akan bisa membawa USD mencapai (memenuhi) slogannya. Fenomena pasangan slogan dan kenyataan (yang ternyata telah saling menjadi oposan) sangat mirip dengan oposisi biner “bicara” dan “menyuarakan” dalam poster I-Pe.

Pasangan Bondan-Benny mungkin dalam urutan pemilihan mendapat nomor 2 atau 3. Buktinya, mereka memakai kata the next (candidate). Dan anehnya, paradoks dengan gambarnya yang terpisah, kata candidate tidak diberi tambahan -s untuk menunjukkan kejamakan. Ini berarti Bondan-Benny telah menjadi satu, tunggal. Atau, asumsi paling buruknya, mereka hanya sok nginggris tanpa tahu konteks dan makna kata dan tanda. Asumsi ini diperkuat oleh kata-kata “BUGLE BOY” di kaos Benny. Tahukah dia artinya? Penggunaan bahasa Inggris yang lain dalam poster tersebut berbunyi change one thing, change everything. Kata-kata ini memperkuat tajamnya bidikan Bondan-Benny: humanis dan kritis. Juga, kata-kata ini kedengarannya indah. Akan tetapi, penggunaan bahasa Inggris tersebut justru menandakan hal lain. Kata change membuat kita teringat pada slogan Mr. Obama “Change, We Believe in” yang dipakainya sebagai plesetan (lintas-teks) dari slogan Amerika “in God, We Believe”. Peniruan ini adalah tanda hegemoni barat, dalam hal ini Amerika dan demokrasinya, terhadap negara-negara berkembang, dalam hal ini Indonesia. Tidak terlihat tanda-tanda bahwa Bondan-Benny sedang melakukan mimikri dengan sengaja untuk membongkar hegemoni tersebut. “Kita” hanya kagum pada Amerika dan demokrasinya, dan “kita” harus menjadi murid yang baik; “kita” masyarakat terbelakang, “mereka” masyarakat” maju. Sebagai mahasiswa yang harus berperan dalam dinamika kampus, “kita” harus berkiblat ke demokrasi Amerika. Oleh karenanya, “kita”pun harus menggunakan bahasa “guru” “kita”, bahasa Inggris yang “universal” itu, tak peduli “kita” sudah punya bahasa sendiri. Bahasa Indonesia tetap lebih rendah nilainya dari bahasa Inggris.

Poster terakhir adalah dari pasangan pemenang “Pemilu Raya” USD: Rere-Eka. Poster ini bergambar pasangan Rere-Eka dibalut bingkai a la pernikahan dengan ukiran di bagian atas dan sampingnya. Mereka berdempetan menunjukkan senyum termanis mereka seperti foto-foto dalam photo-box. Di pojok kanan bawah terdapat sebuah kotak seperti cap bertuliskan “TERBUKTI DAN TERUJI”. Di bawah gambar mereka tertulis “VOTE ME FOR PRESIDENT”. Di bawahnya tertulis nama mereka dan slogan “sederhana” tentang emansipasi wanita: “SAATNYA WANITA BERBICARA DAN DIDENGAR”. Keseluruhan gambar dan tulisan dibingkai lagi dengan garis putih berukir di setiap pojoknya. Warna latar belakang keseluruhan poster adalah ungu.

Poster Rere-Eka adalah poster paling sederhana dibandingkan calon yang lain. Mereka menunjukkan senyum, keceriaan, dan kedekatan. Ukiran dalam bingkai merupakan ciri khas kelokalan. Sedangkan kata “TERBUKTI DAN TERUJI” ingin berbicara tentang perjalanan karir dan kemampuan keduanya, khususnya perpolitikan, lebih khusus lagi di kampus. Sepertinya kata-kata itu dirangkai sebagai antisipasi atas keabsenan mereka dalam panggung politik kampus. Mereka mungkin ingin bilang, “meski tidak berpengalaman di sini, kami punya pengalaman yang berharga di tempat dan bidang lain. Dan kami yakin hal itu bisa diterapkan dalam bidang dan proses ini”. Slogan “SAATNYA WANITA BERBICARA DAN DIDENGAR” mengindikasikan keabsenan peran perempuan dalam bidang perpolitikan kampus. Artinya: dulu, sebelum Rere-Eka maju sebagai kandidat, tidak pernah ada wanita yang “berbicara” dan “didengar”. Inilah saatnya! Kabarnya, warna ungu sebagai latar adalah warna khas yang disukai feminis.

Terlepas dari asumsi bahwa poster saja tidak cukup untuk menggalang massa dan kedekatan personal mereka pada publik UKM dan komunitas-komunitaslah yang membuat mereka menang, Rere-Eka dengan posternya yang sederhana tetap menarik untuk dibaca. Dan saya tidak akan membicarakan lebih dalam asumsi tersebut. Yang pasti, yang membuat saya tertarik adalah fenomena slogan perempuan dalam usaha menjadi figur publik di negeri tahu tempe dan telur dadar ini. Tekanan pada promosi selalu diberikan pada kesetaraan jender, kesetaraan peran. Perjuangan emansipasi sepertinya belum berjalan sebelumnya dengan kata “SAATNYA”, yang menunjukkan waktu sekarang dan perbedaannya dengan waktu dahulu. Ini adalah tanda implisit dari kata “perubahan”. Wanita sudah saatnya bicara. Wanita sudah saatnya didengar. Pengertian lainnya: wanita pernah bicara tetapi tidak pernah didengar. Wanita adalah kaum pendengar; dan lawannya (laki-laki) adalah kaum pembicara. Akan tetapi, tidak hanya memakai slogan kesetaraan saja, Rere-Eka berusaha menunjukkan kemampuannya dengan cap TERBUKTI DAN TERUJI: mereka tidak hanya ngawur bicara dan ingin didengar, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk itu. Pertanyaan selanjutnya, siapa yang harus mendengar wanita bicara? Laki-lakikah? Atau mahasiswa? Namun, aneh untuk ukuran sebuah kampanye ketika Rere-Eka tidak mencantumkan visi ataupun program konkret mereka! Dan tetap saja mereka terpilih. Apakah slogan kesetaraan lebih ampuh untuk menarik massa daripada visi dan program konkret? Apakah massa (mahasiswa) sudah terlalu bodoh atau ingin yang sederhana-sederhana saja? Relasi antara bodoh dan sederhana adalah relasi bayangan. Sekat-sekat keduanya sangatlah tipis. Atau mungkin ini adalah alegori dari pernyataan: kesetaraan gender dulu, baru kemampuan “mencipta”; fasilitas dulu, baru pembuktian.

Kalimat seru “VOTE ME FOR PRESIDENT!!!” selain menunjukkan kesatuan Rere-Eka juga merupakan latah perpolitikan kampus kita atas pemilu di negeri Paman Sam sana. Penjelasan tentang hegemoni ini mirip dengan uraian inferioritas “kita” untuk poster pasangan Bondan-Benny. Bedanya terletak pada jumlah bahasa asing yang digunakan dan koherensi dengan gambar sebagai teks secara keseluruhan. Kata “ME” bisa diartikan sebagai peniadaan Eka sebagai wakil presiden, tetapi juga bisa menyatakan kesatuan keduanya. Nah, yang masih mengganjal tentunya kata PRESIDENT. Jika sebagai kesatuan, apakah mereka akan menjadi presiden semua?

Bagaimanapun, poster adalah sebuah teks yang merupakan tanda. Dan tanda, dalam linguistik, selalu mengacu pada hal yang bukan dirinya sendiri. Tanda linguistik tidak mengaitkan sebuah nama dengan sebuah benda, tetapi konsep (signifie/ signified/ petanda) dengan citra-bunyi (signifiant/ signifier/ penanda/ gambaran akustik). Secara sengaja saya menghindari penggunaan istilah-istilah yang terlalu akademis dan tak terlalu populer. Analisis di atas sebenarnya didominasi oleh metode semiotika Roland Barthes untuk membaca penciptaan mitos.

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

2 komentar
Berikan komentar »

  1. yang pertama ….poster ….selamat dah buat rere dan Eka….moga dapat menjalankan program yg sesuai program…..

  2. populerisasi diri lewat poster-poster memang lagi menjamur di jagat raya ini.
    salah ga sih populerisasi diri lewat poster? mbosenin itu-itu aja?
    ada cara lain yang lebih yahut?

Berikan Komentar