Slogan Tuna-Nalar

8 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Wahmuji

Apa kesan pertama Anda ketika membaca slogan para Caleg (Calon Legislatif – red)?

  1. Tidak percaya
  2. Tidak masuk akal
  3. Menarik

Atau…

  1. Orang yang aku kenal saja yang aku perhatikan
  2. Mengganggu keindahan kota atau hamparan sawah
  3. Tidak pernah menyempatkan diri membaca

Zaman pra-pemilu adalah zaman narsis dan ideologis yang busyet! Geliat PEMILU 2009 sudah mulai terasa ri(c)uh. Banyak orang yang mengaku pemuka masyarakat dan pemuka agama beramai-ramai menjadi ‘PNS’ lewat jalur-cepat. Masyarakat yang apolitis – banyak mahasiswa di dalamnya – mulai dicecoki janji lima-tahunan. Rapat PKK dihadiri para caleg. GOLPUT diharamkan oleh institusi konservatif-normatif MUI. Terompet perang antar partai dan caleg dalam satu partai secara diam-diam dan terbuka telah ditiup dan mengeluarkan nada-nada fals. Nah, LIDAHIBU, sebagai suratkabar yang tidak apolitis, mau tidak mau naik sampan juga mengikuti aliran ri(c)uh PEMILU kali ini. Namun, LIDAHIBU tidak akan membahas perang ideologi antar partai atau ‘tusuk-menusuk’ calon-calon legislatif dan bakal calon presiden. LIDAHIBU ‘hanya’ akan membahas sedikit (lebih tepatnya menghadirkan banyak pertanyaan) tentang bagaimana para caleg mencitrakan diri mereka melalui slogan yang mereka pakai. Bahan pembahasannya pun hanya terbatas pada papan iklan dan baliho para caleg yang dipajang di daerah Condongcatur, Jalan Kaliurang, Jalan Urip Soemoharjo, dan Jalan Affandi, Yogyakarta. Banyaknya wajah caleg yang berbeda di daerah-daerah itu menjadi gambaran atas kondisi yang sama di kota-kota lain di Indonesia.

Slogan

Apa itu slogan? Menurut KBBI  Pusat Bahasa edisi keempat, slogan adalah ‘perkataan atau kalimat pendek yang menarik atau mencolok dan mudah diingat untuk memberitahukan atau mengiklankan sesuatu’ (misal: Jogja Berhati Nyaman); ‘perkataan atau kalimat pendek yang menarik, mencolok, dan mudah diingat untuk menjelaskan tujuan suatu ideologi golongan, organisasi, partai politik, dsb.’ (misal: Berjuang untuk Rakyat).

Di daerah-amatan yang LIDAHIBU lihat, ada dua jenis bahasa yang dipakai sebagai slogan para caleg: Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. (Namun, jangan salah. ternyata ada juga caleg yang tidak memakai slogan apa pun). Rata-rata slogan berisikan ‘mengangkat desa’, ‘dari umat untuk semua’, dan ‘berjuang untuk rakyat’. Kecenderungan ideologi tidak terlalu kentara, dan sebagian membawa bendera agama. Tidak ditemukan slogan-slogan lantang semacam ‘revolusi’ atau ‘pemerintahan yang baru’. Juga tidak dijumpai slogan yang berbicara tentang ‘birokrasi bersih dari korupsi’.

Lalu, apa masalahnya? Begini, sebagian dari pembaca pasti dari awal sudah merasa tidak percaya dengan slogan-slogan yang bertebaran itu. Kata-kata, yang peletakannya telah melanggar aturan tata kota itu hanya angin lalu di pikiran pembaca. Kenapa bisa demikian? Mungkin saja, salah satunya, slogan yang ditampilkan memang penad dengan kemendesakan masalah yang dirasakan oleh pembaca. Ambil saja, misalnya, slogan H. Totok Daryanto dari PAN yang berbunyi ‘Pengalaman, Cerdas, dan Merakyat’, atau slogan Nurcholis Suharman dari Golkar yang isinya ‘Muda, Cerdas, dan Aspiratif’ sebagai contoh. (Anehnya, Suharman dalam foto yang terpajang di posternya ternyata sudah tua! Mungkin karena kebanyakan mikir kali, ya? Tapi nggak, kok. Mukanya memang benar-benar sudah tua.) Atau, yang lebih tidak nyambung lagi, slogan Iffah Nugrahani dari PPP yang memuat kata-kata mutiara ‘Kasih Ibu Tiada Terhingga Sepanjang Masa’ dan ‘Nduk, semua harus dimulai dari diri sendiri’. Lalu, ideologi apa yang sebenarnya mereka sampaikan lewat kata-kata itu? Apa hubungannya, misalnya, ‘pengalaman, cerdas, dan merakyat’ dengan masalah besar ‘krisis global’ yang tetap saja membuat banyak karyawan di PHK? Lagi, apa hubungannya ‘kasih ibu tiada terhingga sepanjang masa’ dengan tindakan praktis berpolitik dan pembuatan kebijakan? Dan, apa fungsinya perwakilan jika ‘semua harus dimulai dari diri sendiri’?

Atau, pembaca telah dari awal bosan mendengar para caleg bilang ‘Berjuang untuk Rakyat’ (slogan dari Sutan Imran dan Agus Bastian, caleg Partai Demokrat). Pastinya, pembaca yang skeptis akan bertanya, “Rakyat siapa?” atau “Siapa itu rakyat?”. Dan anehnya, sebagian pembaca akan merasa dirinya bukan “rakyat” yang di sana, yang sedang mereka ‘perjuangkan’ itu. Gejala apa ini?

Apa yang akan pembaca rasakan ketika membaca slogan ‘Rakyat Adalah Semangat dan Inspirasi Perjuangan Kami’? Pastinya, selain tidak merasa jadi rakyat Si Caleg, sebagian pembaca akan merasa hambar melihat kata ‘perjuangan’. Apa itu ‘perjuangan’? Seorang mahasiswa berjuang menyelesaikan skripsinya; seorang lelaki berjuang untuk mendapatkan cinta perempuan pujaannya; mahasiswa tadi juga berjuang mengerjakan tugas kuliah; seorang tukang becak berjuang membayar cicilan uang sekolah anaknya yang ingin jadi dokter; mahasiswa yang tadi kini berjuang mendapatkan gelar S2; seorang pengusaha berjuang untuk hidup makmur; seorang penjilat berjuang untuk tetap dekat dengan orang-orang besar. Lalu, ‘berjuang’ itu ngapain? Apa itu ‘Berjuang untuk Rakyat’? Untuk apanya rakyat?

Sebagian slogan ada juga yang menarik dan lugas, misalnya ‘Mari Kita Bangun Kembali Ketahanan Ekonomi Masyarakat’ ([Dian Praptikasari, caleg dari PDIP] meskipun tidak ada kata kunci yang lebih jelas yang menunjukkan ideologi ekonominya dan meskipun terdengar seperti slogan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI) atau ‘Selamatkan Indonesia’ yang ditulis oleh H. Budi Setyagraha dari PAN. Frase ‘Selamatkan Indonesia’ kemungkinan besar diambil dari judul buku pendiri PAN, Amin Rais.

Ideologi

Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan seorang teman yang mengurus promosi seorang caleg kere (caleg ini berjanji untuk memberikan 60% gajinya pada masyarakat jika terpilih jadi Anggota Legislatif) LIDAHIBU mendapat keterangan bahwa tidak semua caleg menyusun slogannya sendiri. Juga, penyusunan slogan tertentu tidak selalu musti ideologis, tetapi yang akrab dan mudah diingat saja. Nah, apa artinya ‘ideologis’? Menurut, lagi-lagi, KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat, ideologi (kata dasar dari ‘ideologis’) berarti ‘kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup; cara berpikir seseorang atau suatu golongan; paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik.’ Apa ideologi para caleg itu? Apa ideologi yang ingin disampaikan caleg H. Subardi dari partai Golkar lewat slogan aneh bin ngawur-membodohi ‘Kulo Milih Mbah BARDI Mawon’? Slogan yang dipakai H. Subardi ini adalah salah satu contoh nyata ketaksaan pembicara dalam menggunakan kata ganti orang pertama. Kalimat ‘Kulo Milih Mbah BARDI Mawon’ adalah kalimat yang seharusnya diucapkan oleh pembaca, atau lebih tepatnya pemilih. Nah, pertanyaannya: untuk apakah Subardi membalikkan nalar slogan itu? Apakah untuk memberi efek citra bahwa banyak kawulo cilik yang sudah dekat dengan Subardi, menganggapnya seperti mbah sendiri, lalu kemudian milih dia mawon? Benarkah demikian?

Selain itu, kalau pembaca bermain-main dengan unsur kaidah bahasa, pembaca akan dengan mudah menemukan kegagapan bahasa slogan para caleg. Kegagapan kaidah ini adalah percampuran ngawur (sekali lagi, jika dilihat dari sudut pandang kaidah-kaidah baku berbahasa) beberapa frase atau kata yang memiliki pangkat berbeda dalam rangkaian sintaksisnya. Sebagai contoh adalah slogan dari  H. Totok Daryanto yang berbunyi ‘Pengalaman, Cerdas, dan Merakyat’. Lema pengalaman berpangkat kata benda. Lema cerdas dan merakyat berpangkat kata sifat. Kata hubung dan seharusnya dipakai untuk menggabungkan kata atau frase dengan pangkat yang sama. Juga misalnya kalimat “Suara Anda untuk Memaksimalkan Peran Kita Perempuan”. Coba baca lagi, adakah yang ganjil bin tak lazim?

Dari pemaparan di atas, perkiraan respon yang hadir dalam benak pembaca muncul, selain karena purbasangka apriori ketidakpercayaan terhadap apa pun yang dikatakan seorang caleg alias apolitis, tentu saja karena Si Caleg tidak mampu menghadirkan slogan yang mengena atau ‘menjadi’. Sebagian besar slogan hanya bermain dengan fitur makna ‘menarik’, ‘mencolok’, dan ‘mudah diingat’. Namun, tujuan ideologis suatu partai, organisasi, atau golongan tidak hadir di sana.

***

Kalau boleh dirangkum, absennya rancangan program dan ideologi yang jelas, yang diusung rata-rata caleg dalam slogan-slogannya menunjukkan ketidak-acuhan, penyepelean, dan pembodohan pada calon pemilih. Kampanye macam ini tidak akan pernah melahirkan PEMILU yang demokratis.

Nah, pembaca, seperti itu laporan hasil penelusuran dan pembacaan LIDAHIBU tentang poster dan baliho caleg di beberapa ruas jalan utama di Yogyakarta. Analisis yang LIDAHIBU lakukan murni berasal dari prasangka-masukakal yang LIDAHIBU kelola dari data yang terkumpul pengutipan data dilakukan. ‘Kebenaran’ analisis itu biarlah secara obyektif termaktub dalam ruang kajian ini saja. Semoga berfaedah.

(Belum ada jempol)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar